Kapan terakhir kau menyapaku? Kapan terakhir kita
bersenda gurau dalam percakapan singkat lewat telepon? Entahlah.. Aku sudah tak
begitu ingat, dan yang pasti jarak kita masih tetap sama terpisahkan antara
laut yang terhampar luas berpuluh kilometer.
Ini bukan takdir, ini hanya sekerlip kisah
kehidupan yang harus kita jalani. Dan ini adalah sebuah cerita, kita adalah
peran utama dalam skenario yang telah di rancang olehNya. Sedikit lebih ganas
dan memang begitu adanya.
Sedikitpun tak pernah terlintas di dalam benakku,
ketika waktu harus membunuh perasaan ini secara perlahan jauh begitu dalam.
Perlahan tapi pasti sayatan itu terus menerus melukai masing masing perasaan
dan hingga pada akhirnya harus berakhir begitu saja.
Aku masih ingat, ketika terakhir aku berpesan
kepadamu jika suatu saat nanti kau sudah merasa bosan denganku, kau boleh
mengakhiri hubungan ini dan aku ikhlas. Aku tak ingin memaksa perasaan ini
kepadamu, hanya saja aku tak tega jika waktu harus membuatmu bosan dengan
situasi sekarang.
Entah harus berbuat apa untuk melukiskan apa yang
sedang aku rasakan, dan yang pastinya aku masih tak menyangka dengan apa yang
sedang terjadi saat ini. Aku masih ingat ketika hari terakhir sebelum
keberangkatanku, kita sempat bersenda gurau bahkan aku sempat meneteskan air
mata pertanda bahwa aku tak ingin berpisah denganmu. Rasanya begitu berat
ketika aku harus meninggalkanmu, dan itu memang benar adanya.
Waktu tak terasa berjalan begitu cepat, kau dan aku
bergegas menelusuri jalan mencari kendaraan umum yang akan membawa kita ke
stasiun kereta api. Perlahan-lahan kita berjalan dan sempat kau berkata padaku
bahwa di antara kita masing-masing terpasang satelit yang akan mengawasi kita,
oh kamu begitu lucu dan hampir saja air mata ini menetes kembali.
Tak begitu lama kita menunggu dan akhirnya kereta
yang akan membawa kita ke kota Jogjakarta pun telah tiba. Aku menggenggam
tanganmu, berjalan di tengah-tengah kerumunan manusia yang masing-masing sibuk
mencari tempat. Kereta waktu itu di penuhi banyak penumpang, dan akhirnya kita
hanya bisa berdiri diantara mereka.
Kereta berjalan dengan perlahan meninggalkan
stasiun, aku masih saja menatap kedua bola matamu berharap kau mengerti apa yang
sedang aku rasakaan saat itu. Tak ada reaksi apa-apa, kau hanya tersenyum
padaku.
Aku sangat menikmati saat-saat terakhir kita
bertemu, bahkan di dalam kereta kau sempat melingkarkan jari kelingkingmu di
jariku dan kita berdua berjanji akan bertemu kembali. Janji itu hingga saat ini
masih tetap aku ingat dan bahkan selamanya tak akan pernah terlupakan….




