Promise!



Kapan terakhir kau menyapaku? Kapan terakhir kita bersenda gurau dalam percakapan singkat lewat telepon? Entahlah.. Aku sudah tak begitu ingat, dan yang pasti jarak kita masih tetap sama terpisahkan antara laut yang terhampar luas berpuluh kilometer.
Ini bukan takdir, ini hanya sekerlip kisah kehidupan yang harus kita jalani. Dan ini adalah sebuah cerita, kita adalah peran utama dalam skenario yang telah di rancang olehNya. Sedikit lebih ganas dan memang begitu adanya. 
Sedikitpun tak pernah terlintas di dalam benakku, ketika waktu harus membunuh perasaan ini secara perlahan jauh begitu dalam. Perlahan tapi pasti sayatan itu terus menerus melukai masing masing perasaan dan hingga pada akhirnya harus berakhir begitu saja.
Aku masih ingat, ketika terakhir aku berpesan kepadamu jika suatu saat nanti kau sudah merasa bosan denganku, kau boleh mengakhiri hubungan ini dan aku ikhlas. Aku tak ingin memaksa perasaan ini kepadamu, hanya saja aku tak tega jika waktu harus membuatmu bosan dengan situasi sekarang.
Entah harus berbuat apa untuk melukiskan apa yang sedang aku rasakan, dan yang pastinya aku masih tak menyangka dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Aku masih ingat ketika hari terakhir sebelum keberangkatanku, kita sempat bersenda gurau bahkan aku sempat meneteskan air mata pertanda bahwa aku tak ingin berpisah denganmu. Rasanya begitu berat ketika aku harus meninggalkanmu, dan itu memang benar adanya.
Waktu tak terasa berjalan begitu cepat, kau dan aku bergegas menelusuri jalan mencari kendaraan umum yang akan membawa kita ke stasiun kereta api. Perlahan-lahan kita berjalan dan sempat kau berkata padaku bahwa di antara kita masing-masing terpasang satelit yang akan mengawasi kita, oh kamu begitu lucu dan hampir saja air mata ini menetes kembali.
Tak begitu lama kita menunggu dan akhirnya kereta yang akan membawa kita ke kota Jogjakarta pun telah tiba. Aku menggenggam tanganmu, berjalan di tengah-tengah kerumunan manusia yang masing-masing sibuk mencari tempat. Kereta waktu itu di penuhi banyak penumpang, dan akhirnya kita hanya bisa berdiri diantara mereka.
Kereta berjalan dengan perlahan meninggalkan stasiun, aku masih saja menatap kedua bola matamu berharap kau mengerti apa yang sedang aku rasakaan saat itu. Tak ada reaksi apa-apa, kau hanya tersenyum padaku.
Aku sangat menikmati saat-saat terakhir kita bertemu, bahkan di dalam kereta kau sempat melingkarkan jari kelingkingmu di jariku dan kita berdua berjanji akan bertemu kembali. Janji itu hingga saat ini masih tetap aku ingat dan bahkan selamanya tak akan pernah terlupakan….


Posted in . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

Copyright (c) 2011 Asisteneptunus .