
Cerita ini aku buat untuk mengenang pahlawan devisa dari negara kita REPUBLIK INDONESIA MERDEKA JAYA bernama Ruyati ! Seorang TKW yang bekerja di Arab demi membantu perekonomian keluarga. Tapi bukanlah rupiah yang ia dapat, melainkan aniaya yang di berikan sang majikan kepadanya.
Cerita ini aku tulis berdasarkan imajinasi saja dan beberapa ada yang aku ambil dari berita. Semoga kejadian ini tak terulang lagi kepada Pahlawan Devisa kita yang berkerja di luar negeri sebagai TKW. Amin …
VIDEO nya bisa di lihat disini
Kejar !
Derap langkah warga berlarian mengejarku. Hampir di pastikan aku akan tertangkap oleh massa yang terus berteriak sambil memanggil-manggil namaku. Kejadian ini terjadi ketika baru saja aku membunuh majikanku di sebuah apartemen. Bagaimana tidak kesal, tiap hari diperlakukan kasar seperti itu. Memang pekerjaanku hanyalah seorang TKW yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tetapi tak seharusnya aku diperlakukan seperti ini !
Kala itu suasana rumah sepi tak berpenghuni, kedua majikanku baru saja berangkat bekerja. Mereka hanya berpesan untuk menjaga rumah dan segera menyetrika pakaian mereka karna nanti sore akan di pakai untuk pergi menghadiri pesta pernikahan.
Hari ini pekerjaan sangat menumpuk, mulai dari menyuci pakaian, membersihkan halaman, hingga mengepel lantai rumah. Inilah pekerjaanku setiap hari, pekerjaan yang sebenarnya membuatku lelah dan terkadang jenuh. Mau bagaimana lagi, semua ini aku lakukan demi membantu perekonomian keluarga.
***
Dugaanku benar, beberapa menit kemudian mereka datang.
“ Ruyati, apakah kamu telah menyelesaikan pekerjaan yang aku perintah tadi pagi ?” tanya majikanku dengan logat khas arab.
“Belum tuan, maaf kan saya.” Aku menundukan wajah
Seketika itu juga, tangan besar majikanku melayang tepat di sebelah kanan pipiku. Plak !!!
Aku hanya bisa diam membisu, ingin rasanya memberontak !!
“Sudah aku ingatkan kepada kamu untuk tak lupa terhadap pesanku tadi pagi ! Kalau begini ceritanya, aku tak sempat pergi ke pernikahan kawanku !”
Lalu kemudian muncul dari arah ruang tamu istri dari majikanku
“Sudahlah Ayah tak usah kau bersikap seperti itu kepada Ruyati. Kasihan dia..” sambil berusaha menenangkanku.
Lalu kemudian mereka pergi meninggalkanku sendiri…
Aku hanya bisa menangis, tak bisa berbuat apa-apa ketika aku di perlakukan seperti itu.
***
Sudah beberapa bulan ini aku berkerja di rumah mereka. Perlakuan kasar yang majikan berikan kepadaku hanya bisa aku pendam dan mencoba untuk sabar. Hingga suatu hari tepatnya di awal bulan puasa amarahku sudah tak terbendung lagi.
Kala itu aku tengah sedang mencuci piring di dapur, piringnya begitu banyak karna baru semalam rumah ini ke datangan tamu penting dari perusahaan majikanku bekerja.
Terdengar suara majikanku memanggil
“Ruyati ! cepat kau kesini !”
Dengan tergesa akhirnya aku pergi menghampiri majikakanku itu
“Iya tuan, ada apa Tuan memanggil saya?” tanyaku dengan nafas tersengal-sengal
“Tak bisakah kau lihat ini !” sambil menunjukan pakaian yang penuh dengan bercak noda
“Kenapa pakaianku kau buat seperti ini Ruyati ? Kau tak lihat, ini pakaian harganya mahal ! Gajimu sebulan saja tak mampu untuk membeli ini!” kemudian Beliau mendorong badanku dengan keras hingga aku tersungkur jatuh dan sedikit membentur dinding kamar
“Ma..Ma…Maafkan saya tuan..” hanya kata maaf yang bisa aku katakan di situasi seperti ini. Terlebih lagi pakaian itu adalah pakaian kesayangan beliau..
PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!! Tangan beliau menamparku bertubi-tubi.
Sakit…perih…kesal…marah… yang aku rasakan saat itu ,,,
“Kau Ruyati ! keluar sekarang dari kamar saya !! cepat !!” Bentak beliau dengan keras..
Akhirnya aku bangkit dan berjalan perlahan keluar dari kamar beliau. Sambil memegangi kedua pipi yang masih terasa sangat sakit, aku pergi ke kamar mandi hanya sekedar untuk membasuh “mungkin saja rasa perih ini sedikit berkurang” pikirku.
Aku benar-benar sudah nggak kuat dengan sikap kasar yang majikan berikan kepadaku ! terlebih lagi akhir-akhir bulan ini gajiku belum juga di bayar. Beliau beralasan kalau ini adalah hukuman untuk ku karna sering melakukan kesalahan. Tapi tak seperti ini caranya ! Lantas kedua anaku di sana mau makan apa jika masih saja gajiku belum di bayar !
Keputusanku sudah bulat ! aku akan mengakhiri semua ini ! amarah yang sudah lama aku pendam akhirnya meledak juga.. Mungkin ini adalah keputusan terbodoh yang aku ambil, tapi aku tak punya banyak pilihan ! jika masih saja bertahan seperti ini, bisa jadi aku akan terus menderita !
***
Malam itu, suasana apartemen telah sepi. Kedua majikanku sudah
dipastikan tidur terlelap di kamar yang bersebelahan dengan kamar
tidurku. Aku masih diam di atas ranjang sambil merencanakan hal yang
akan membuat hidupku terbebas dari penderitaan. Mungkin ini memang cara
nekat yang aku tempuh, dan ini adalah salah satu jalan untuk
membebaskanku dari penderitaan yang telah aku rasakan selama
berbulan-bulan.Aku sedikit menarik nafas dalam-dalam, melangkah perlahan dan hampir dipastikan majikanku tak mendengar. Aku berjalan menuju muka pintu kamar beliau, membuka perlahan-lahan. Dan dengan sekejap aku telah berada di kamar majikanku itu.
Pisau dapur telah berada di genggaman tanganku, aku memejamkan mata, dan JLEB !!!
Pisau itu menancap tepat di leher kepala majikanku…
Seketika itu juga darah mengalir dengan deras, kedua matanya terbelalak dan sedikit mencoba untuk mengeluarkan kata tapi tak mampu aku dengar dengan jelas.
Aku telah membunuh majikanku sendiri !!
Dengan panik aku keluar dari kamar dan segera berlari keluar…
Dan celakanya, salah satu penghuni apartemen segera masuk ke dalam apartemen majikanku itu. Kemudian dia berteriak
“Tolong! Tolong! Ada pembunuhan disini! Kejar wanita itu! Ruyati berhenti kau !!”
Aku berlari dengan kencang, nafasku terpacu begitu secapat… dan dengan sekejap aku roboh ketika salah seorang memukul ku tepat di pundak menggunakan seonggoh balok kayu. Seketika itu juga pandanganku menjadi gelap … pusing rasanya …
Aku mencoba untuk membuka mata…
Kepalaku masih berat rasanya ..
Pandanganku sedikit kabur…
Samar-samar aku melihat di sekitarku banyak sekali kerumunan warga dan ada beberapa petugas polisi berseragam lengkap..
Aku baru sadar, ternyata sekarang aku berada di kantor polisi !
“Saudari Ruyati. Benar itu nama kamu?” tanya seorang petugas kepadaku
“Benar pak..”
“Saudari Ruyati, kami dari pihak Kepolisian mendapat berita tentang di temukan nya mayat berjenis laki-laki di tempat apartemen. Bisa anda jelaskan?”
Seluruh badanku terasa lemas seketika.. terlebih lagi rasa pusing ini semakin membuat badanku begitu lemah. Akhirnya aku mencoba berkata jujur kepada petugas itu.
“Iya pak saya tahu dan bahkan mengenal mayat itu. Dia adalah majikan saya, saya sendirilah yang membunuh beliau. Alasan saya membunuh karna saya begitu kesal terhadap perlakuan kasar yang beliau berikan kepada saya setiap hari!”
“oke, bapak mengerti apa yang saudari Ruyati rasakan. Tetapi ini telah menyalahi aturan hukum yang berlaku di negara ini. Untuk sekarang, anda bisa tinggal di tahanan sambil menunggu berkas yang akan di ajukan ke pengadilan.”
Kemudian aku di antarkan oleh kedua petugas polisi menuju ke tempat Sel Tahanan.
***
Proses perkaraku akhirnya sampai di meja hijau. Pemerintah Arab juga
telah melapor melalui kedutaan besar untuk Indonesia tentang persoalaan
ini. Dan beberapa minggu lagi akan di adakan sidang tentang hukuman apa
yang akan aku terima.Desas-desus terdengar kalau nanti aku akan di jatuhi hukuman pancung. Hukuman yang di berikan kepada para penjahat kelas kakap tanpa adanya pengampunan maupun pengajuan banding dari tersangka.
Keputusan ini memang membuatku begitu berat, berat rasanya… antara penyesalan dan amarah menjadi satu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah jalan dan takdir yang aku tempuh. Bahkan dari pihak pemerintah Arab tak memberi tahu soal ini ke Pemerintah Indonesia.
Hari yang di nantipun tiba…
Pagi-pagi sekali aku telah di bangunkan oleh petugas penjaga tahanan.
“Saudari Ruyati, segera persiapkan diri. Sidang beberapa jam lagi akan di laksanakan.”
Aku hanya bisa menganggugakan kepala sambil segera menuju kamar mandi yang kumuh dan tak terawat. Baru kali ini, aku mandi di tempat yang tak selayaknya. Penuh dengan bau-bau tak sedap dan di tambah lagi air di bak mandi begitu keruh. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mandi, hanya sekedar cuci muka dan membasuh rambut.
Setengah jam kemudian, petugas tahananan menjemputku. Membawaku melintasi sederet sel-sel tempat para tersangka tinggal. Beberapa hari kemarin, aku juga sempat berkenalan dengan salah satu dari antara mereka.
Tiba di muka pintu mobil, aku segera naik dan mobil melaju dengan kencang sambil di kawal beberapa sepeda motor dari pihak Rutan.
Tak begitu lama perjalanan yang aku tempuh, dan akhirnya aku tiba di pengadilan. Suasana hari itu begitu ramai dan di penuhi dengan warga serta beberapa kerabat keluarga majikanku. Terlintas mimik wajah salah satu kerabat keluarga majikan, seakan-akan menggambarkan kalau dia begitu marah terhadap apa yang aku lakukan kepada salah satu keluarganya.
Aku berjalan perlahan menuju kursi yang berada di tengah-tengah ruangan persidangan. Perasaanku sedikit berdebar-debar menanti keputusan yang akan di berikan Hakim terhadap apa yang telah aku lakukan, menghilangakan nyawa seseorang!
Perlahan tapi pasti, Hakim ketua beserta para hakim lainya datang memasuki ruang sidang. Suasana berubah menjadi hening…
Salah seorang yang sedari tadi berdiri di sebelah, membalikan badan ke arahku sambil meletakan Al-Quran di atas kepalaku sebagai tanda sumpah bahwa aku akan memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya.
Setelah prosesi itu selesai, dengan suara lantang Hakim ketua berbicara
“Baiklah, persidangan hari ini tanggal 21 Mei 2011 mengenai kasus pembunuhan Saudari Ruyati terhadap Seorang Majikan nya akan segera di mulai”
Tok…Tok…Tok…Tok…! Palu di hentakan dengan keras.
Selama kurang lebih 2 Jam persidangan akhirnya vonis dari hakim memutuskan bahwa aku akan menerima hukuman mati karena keluarga majikanku tak mau memberikan maaf.
Iya inilah yang terjadi pada kenyataanya…
Aku melakukan ini semuapun dengan alasan ! aku telah di aniaya oleh majikanku sendiri !
***
Aku mendapatkan informasi bahwa eksekusi akan di laksanakan hari ini
tepat jam tiga sore. Sudah dari jauh hari aku mempersiapkan semuanya,
menunggu akan datangnya waktu itu.Perasaan takut … perasaan cemas … dan perasaan sedihpun menjadi satu di dalam pikiranku.
Aku tak tahu jika perbuatanku ini pada akhirnya membawaku pada hukuman pancung. Sungguh mengerikan …
Sedari kemarin aku telah puasa, berdoa dan sembayang memohon ampun atas dosa yang telah aku perbuat..
Waktu ku di bumi ini tinggal beberapa jam lagi…
Aku hanya bisa berharap kepada anak dan suami beserta saudaraku semua agar di berikan ketabahan dan kesabaran atas kepergianku.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, seorang penjaga keamanan datang mengunjungi sel tempat di mana aku ditahan.
“Saudari Ruyati, segera persiapkan diri. Mari ikut dengan saya”
Beliau memakaikan penutup mata berwarna putih di kepala ku.
Kedua tanganku di ikat dengan kencang..
Hari ini aku menggunakan pakaian serba warna putih,
Tak ada satupun pendamping yang menemaniku hanya sekedar menenangkan pikiran
Aku di tuntun untuk memasuki mobil yang membawaku entah kemana..
Hatiku berdegup dengan kencang ..
Di sepanjang jalan aku tak henti-hentinya mengucap doa
Tak terasa keringat membanjiri seluruh badanku …
Dalam hati aku hanya berkata “ ya Allah, aku siap menghadapmu”
Seketika mobil yang aku tumpangi berhenti ..
Terdengar suara pintu terbuka dan ada tangan yang menarik ku keluar. Aku di tuntun untuk keluar dari mobil..
Sayup-sayup suara kerumunan orang terdengar..
Aku tak tahu dimana sekarang aku berada !
Pandanganku pun gelap.. tak dapat melihat sekitar …
Akhirnya aku di bimbing melangkah ke suatu tempat ..
Aku di suruh untuk bersujud mengarah Kiblat.
Aku pasrah …
Aku siap ..
Aku menundukan kepala ku ..
Tak beberapa lama, KRES !
Kepalaku tumbang ..
Pandanganku seketika itu juga berubah menjadi putih ..
Aku tak dapat lagi merasakan sekujur badanku ..
Kini aku sudah tahu, bahwa aku telah meninggalkan dunia ini ….



