Namanya Bintang, seorang anak muda yang terlahir
dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak sedangkan Ibunya
telah lama meninggal. Bintang adalah nama yang diberikan oleh Ayahnya agar
kelak suatu saat nanti dia dapat menyinari orang-orang yang ada di
sekelilingnya.
Pekerjaan Bintang tiap hari berjualan ikan dipasar,
ya untuk membantu perekonomian keluarganya. Dari subuh dia harus berada dipasar
untuk berjualan. Tak pernah ada kata lelah dalam pikiranya, ia sudah bertekat
untuk belajar mandiri demi masa depan dirinya.
Penghasilan yang ia dapat dari hasil berjualan ikan
selalu ia sisishkan dan sebagian ia berikan kepada Ayahnya, ya walaupun tak
seberapa tapi ia cukup bangga telah meringankan perekonomian keluarga.
Bintang hidup di kelilingi oleh tetangga yang ramah
tamah, tak segan jika ia sedang kesusahan pasti tetangga sekitar selalu
membantunya. Memang Bintang di kenal sebagai salah satu warga yang suka
menolong, tak hayal banyak tetangga yang simpatik denganya ...
Bintang seorang lelaki kuat dan sabar, ia telah
banyak belajar dari sosok Ayahnya yang di ibaratkan sebagai seorang Pendekar.
Bagaimana tidak, Bintang dalam kehidupan sehari-harinya serba kekurangan. Mau
makan saja ia harus rela bekerja siang dan malam karena penghasilan Ayahnya
yang begitu minim. Apalagi soal percintaan, tak pernah terbesit sedikitpun
olehnya untuk mencari pacar atau sekedar berkenalan dengan wanita. Mungkin,
pacarnya saat ini ialah segerombolan ikan yang berenang dalam kubangan air yang
siap untuk dijual hingga pada akhirnya ia bertemu dengan sesosok Bidadari
cantik bernama Donita.
Kisah pertemuan mereka boleh di bilang unik dan
hampir tak ada yang mengira. Mungkin ini semua adalah balasan atas kegigihan
dan kesabaran Bintang dalam menjalani hidupnya. Wanita cantik dan baik hati
yang telah menyita hampir seluruh pikiranya. Pikiran yang selama ini tak ada di
dalam benak Bintang.
-------------------------------------------------------------------------------------
Sekitar dua tahun yang lalu saat Bintang sedang
asyik menata ikan yang akan dia jual, ketika itu pasar sedang ramainya di bulan
puasa seminggu sebelum lebaran. Nampak samar-samar seorang wanita cantik yang
menangis tak jauh dari Kios. Ia nampak begitu sedih, menangis di kerumunan
orang banyak. Kemudian Bintang menghampirinya
"Kamu kenapa? Ada yang bisa aku bantu?"
Wanita itu tidak menjawab, ia terus saja menangis
tak henti-hentinya. Entah apa yang membuat dia menangis, Bintang masih bingung
dengan wanita itu. Perlahan-lahan tangisanya pun berhenti, lalu kemudian ia
menatap kedua mata bintang dengan tajam.
"Bisakah kamu bantu aku? aku barusan saja
kecopetan. Seluruh isi tasku raib di bawa pencopet dan aku bingung harus
bagaiamana lagi."
Bintang terkejut mendengar apa yang ia katakan,
nampak sekali dia begitu letih dan tak bertenaga. Wajahnya penuh dengan cucuran
keringat dan air mata. Sesekali ia menghapus air matanya yang sudah mulai reda.
Nampak tersirat di wajahnya perasaan sedih bercampur marah. Perlahan-lahan
Bintang mencoba untuk menenangkanya.
“kalau boleh tau mbak tinggal dimana? Mungkin bisa
aku antarkan pulang kerumah.”
“Rumah aku jauh mas, dari sini jaraknya kira-kira
dua kilo meter. Tapi aku harus cepat-cepat pulang karena ibu aku udah menunggu
dirumah.”
Bintang nampak bingung, matanya menatap wanita itu.
Nampaknya ia memang terlihat sedang kesusahan. Terlihat dari raut wajahnya yang
memelas dan sesekali meneteskan air mata. Sambil meregoh ke dalam saku, Bintang
mengambil beberapa lembar uang.
“Kalau begitu, ini aku ada sedikit uang buat ongkos
pulang.”
Tanpa banyak bicara, wanita itu mengambil uang yang
Bintang berikan. Sambil sesekali ia melirik ke arahnya. Matanya menelusuri
Bintang dari atas hingga ke bawah. Tak ada keraguan sekalipun terselip dalam
benak wanita itu.
“Terima kasih mas lain waktu aku akan kembalikan
uang ini. Oya kalau boleh tau siapa nama mas?.” tanyanya pada Bintang.
"Aku Bintang"
"Aku Donita"
Lalu kemudian wanita cantik itu mengeluarkan kartu
Identitasnya dan memberikanya pada Bintang.
"Buat apa ini?"
"Ambilah, itu sebagai jaminan. Nanti sore aku
akan kembali lagi kesini dan mengembalikan uang yang kamu berikan."
Bintang tak banyak bicara lagi dan langsung
menerima kartu identitas itu. Disitu tertulis nama Donita, ternyata dia kuliah
di salah satu kampus di daerahnya. Entah apa yang membuat Bintang langsung
percaya denganya, kartu Identitas itu sebenarnya tak begitu berarti buatnya
tapi mau gimana lagi.
"Kalau begitu aku simpan kartu ini."
"Terima kasih banyak ya Bintang. Aku berjanji
nanti sore akan aku kembalikan uang kamu"
Bintang hanya bisa tersenyum padanya dan seketika
itu juga dia pergi meninggalkan Bintang. Kejadian itu berlalu begitu cepat
tanpa terlintas dalam benak Bintang untuk menanyakan lebih lanjut tentang asal
usulnya.
Sejuta pertanyaan tentang wanita itu terus
menari-nari didalam pikiran Bintang. Sosoknya telah menyita perhatian Bintang,
yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sedangkan
ikan di keranjang masih terlihat segar belum tersentuh oleh tangan pelanggan.
Ya mungkin ini karena tadi ia membantu wanita itu sehingga tak sempat untuk
berjualan. Akhirnya Bintang memutuskan untuk bersantai sejenak sambil
membaca-baca koran yang ia beli kemarin di toko sebelah. Tak lama kemudian
datanglah seorang sahabatnya sambil membawa bungkusan yang berisi nasi rames
dan es teh manis.
"Eh buset! lo bawa apaan tuh?" tanya
Bintang
"Ini gue bawa nasi rames sama es teh manis
kesukaan gue. Lo mau gak?"
"Enak aja! Gue hari ini puasa Don. Lo sih
enak, tiap hari gak puasa. Sedangkan gue harus nahan lapar dan haus dari pagi
sampe sore nanti"
"Hehehehehe, ya maaf kan gue lupa kalau lo
puasa hari ini. Kalau gitu gue mau makan dulu ya. Perut gue udah laper
nih" sambil membuka bungkusan nasi yang dia bawa.
"Ya udah sana makan, habis itu jangan lupa
bungkusnya di buang ke tong sampah. Kebiasaan lo kalau habis makan mesti lupa
buang bungkusnya. Kan gue capek tiap hari bersihin nih kios sendirian. Ya kalau
lo mau bantuin gue? kalau enggak?" sambil bersungut-sungut Bintang
berbicara kepada temanya itu.
Ditengah asik-asiknya mereka berbicara,
terdengarlah suara seorang wanita yang tak asing lagi di telinga Bintang.
Ternyata suara itu tak lain dan tak bukan adalah wanita yang tadi siang. Wanita
itu kemudian mendekati Bintang dengan sedikit memberikan senyuman kepadanya.
"Hai Bintang, aku kesini mau tepatin janjiku
tadi siang. Nih aku kembalikan uang yang kamu berikan." wanita itu
kemudian memberikan amplop yang berisi uang kepada Bintang.
Seketika itu juga bagaikan tersengat aliran listrik
seratus watt Bintang diam terpaku menatap ke arah Donita, wanita yang tadi
siang ia tolong kini telah berada tepat di depan hidungnya dengan penampilan
bak bidadari yang turun dari khayangan. Bintang tak menyangka dengan penampilan
wanita itu, padahal sebelumnya ia pikir kalau dia hanya seorang gadis biasa dan
ternyata dugaan Bintang salah besar. Perasaan gugup perlahan menghampiri
Bintang, menatap wajah wanita itu dengan kerlitan di dahinya.
"Hemm, ka ka ka...kamu.... wanita yang tadi
siang aku tolong kan? Kok terlihat berbeda ya? apa jangan-jangan aku yang salah
lihat?"
"Ah ngaco aja kamu ini! ini beneran aku
tau!" sambil merengut Donita berkata
"Ya..ya...aku kan cuma becanda, maaf deh kalau
gitu. Eh sini dulu, duduk disini aja. Ngapain kamu berdiri di luar. Nanti malah
di kira pengemis lho.." Bintang mencoba untuk mengusir rasa gugup yang ia
rasakan.
"Gak mau ah, aku disini aja. Lagipula aku cuma
sebentar aja kok. Keburu-buru sih, mau pergi ke kampus ngerjain soal yang belum
kelar. Kalau gitu, mana sini kartu identitas yang aku berikan ke kamu tadi
siang?"
"Oh yaudah kalau gak mau.. Nih aku
kembalikan." sambil merogoh ke dalam saku, lalu Bintang mengembalikan
kartu identitasnya.
"Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Lain kali
pasti aku akan mampir lagi kesini.Oya, sekali lagi aku ucapin terima kasih
banyak udah mau nolongin aku tadi siang. Sampai jumpa besok ya Bintang"
Kemudian wanita itu pergi meninggalkanya. Sesekali
ia melirik ke arah Bintang sambil melempar senyum penuh arti. Senyuman yang
membuat isi hati Bintang berdetak dengan kencang.
---------------------------------------------------------------------------
Pertemuan siang itu membuat Bintang mengenal Donita
sebagai sosok wanita yang baik. Kecantikan dan kebaikan yang ia punya telah
meluluhlantakan isi hati Bintang. Sosok wanita idaman yang selama ini ia
dambakan. Setelah beberapa lama mereka menjalin hubungan, akhirnya mereka resmi
pacaran. Tepatnya pada tanggal 21 Agustus kemarin hubungan mereka telah genap 1
Tahun bertepatan dengan ulang tahun Bintang yang ke 22. Antara Bintang dan
Donita terpaut umur yang tak begitu jauh. Ia anak ke dua dalam keluarganya,
Ayahnya memiliki sebuah perusahaan terbesar yang bergerak dalam bidang industri
bahan-bahan kimia sedangkan Ibunya mempunyai butik terkenal di pusat kota.
Keseharian Donita dari pagi hingga sore di habiskanya dengan kuliah. Sungguh
kehidupan yang lengkap dan bahagia.
Bintang tak pernah lupa saat pertama kali ia
mengungkapkan perasaanya pada Donita. Ia tak menyangka jika cintanya di terima
olehnya, bagaikan tertiban bulan ketika lama ia pendam perasaan itu hingga pada
akhirnya ia ungkapkan lalu kemudian di sambut hangat oleh Hati Donita.Bintang
tahu bahwa dirinya adalah orang yang kuper, selalu ketinggalan jaman dalam
urusan teknologi. Hal itu sama sekali tak jadi masalah dalam kehidupan Bintang,
yang ia tahu cuma sebatas berjualan ikan dan tak lebih. Donita memaklumi dengan
kondisi Bintang saat ini, maka dari itu ia rela menyempatkan waktu sebelum dan
sesudah kuliah untuk mampir ke Kios Bintang tiap harinya. Hal ini Donita
lakukan karena rasa sayang yang begitu besar terhadapnya, pria yang telah
merubah pandangan Donita terhadap sebuah hubungan asmara jaman sekarang.
Hingga akhirnya pada tanggal 21 Agustus pada
tahun 2011 Bintang memutuskan untuk mengatakan cinta pada Donita. Ini pun
karena desakan dari Doni sahabatnya. Lewat percakapan singkat melalui
handphone, Bintang mencoba untuk menghubungi Donita menyuruh dia untuk datang
ke pasar nanti siang . Ini adalah hal pertama dalam seumur hidupnya menyatakan
cinta pada seorang wanita, membuat decak jantung Bintang berdegup dengan
kencang.
Siang hari itu, pasar terlihat begitu ramai di
penuhi dengan para pembeli. Bintang bersama dengan sahabatnya merancang moment
yang akan menjadi sejarah dalam hidupnya. Rencana yang sangat sederhana dan
bahkan tak istimewa di mata orang lain. Tapi ini lah yang bisa Bintang lakukan
untuk menunjukan betapa besar cintanya kepada Donita.
Disela hiruk pikuk pembeli, Bintang dengan suara
lantang mengumumkan kalau saat ini ia akan menyatakan perasaan kepada seorang
wanita yang begitu spesial di hatinya. Seketika itu juga semua mata pembeli
tertuju padanya, entah angin apa sehingga semua pembeli seolah-olah terhipnotis
dan menuruti apa yang Bintang katakan demi lancarnya rencana yang telah ia
bicarakan dengan sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, Donita muncul dari arah
muka pintu masuk pasar. Melangkah dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya,
terlintas berjuta tanya tentang keadaan pasar saat ini yang tak seperti
biasanya. Langkah demi langkah Donita mendekat ke arah Bintang.
"Bintang, sedang apa kamu di atas sana? ayo
cepat turun sini."
"Gak mau ah, aku mau tetap disini aja."
sambil berdiri di samping tirai besar yang siap ia tarik.
"Kalau gak mau turun, aku lebih baik pulang
saja. Ngapain juga harus ke sini menemui kamu." Kemudian Donita membalikan
badan, bersiap untuk pulang. Ketika ia maju beberapa langkah, dengan keras Bintang
berteriak
"Donita! Berhenti!" sambil menarik tirai,
kemudian munculah tulisan besar bertuliskan " I LOVE YOU DONITA! KAMU MAU
GAK JADI PACARKU?
Tersentak Donita membaca tulisan itu, seluruh
tulang dan ruas tubuhnya seakan-akan membeku. Donita masih disitu, terpatung
diam dan membisu. Perlahan air matanya jatuh membasahi kedua pipi ranum
merahnya, perasaanya bercampur antara senang dan terkejut. Apakah ini
kenyataan? ataukah hanya sebuah mimpi? Donita masih tidak percaya dengan apa
yang ada di depan matanya saat ini. Seorang pria pendiam yang ia kenal ternyata
bisa melakukan hal sedemikian rupa sehingga membuatnya takjub tak percaya.
Perlahan tapi pasti, Bintang lantas turun dari atap
dan menghampiri Donita. Ia menggenggam kedua tanganya,menatap jauh ke dalam
hatinya lewat kedua bola mata indahnya. Seolah-olah ia berbicara dan meyakinkan
Donita tentang perasaan ini, perasaan yang jauh telah tersimpan di dasar hati.
"Di pasar ini, didepan semua mata para
pengunjung, aku akan mengungkapkan seluruh isihatiku. Perasaan yang tlah
menghantuiku setiap saat, perasaan dimana aku benar-benar mencintai dan
menyayangimu sepenuh hati. Aku bukanlah seorang pejungga yang pandai
berkata-kata, merangkai setiap detil rasa yang tersirat. Tapi kali ini saja
dengarkan aku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Kamu mau kan jadi pacar
aku?"
Donita hanya bisa terdiam di hadapan Bintang,
terhanyut dalam setiap kata demi kata yang mengalir dari bibirnya. Tak ada
suara sedikitpun yang terucap
"Donita, kamu kok malah diem? Aku serius, aku
gak lagi becanda. Plis, bicaralah" dengan lirih Bintang berkata.
Seketika itu juga suasana pasar menjadi hening.
Para pengunjung ikut terhanyut oleh suasana yang mereka ciptakan. Sesekali
terdengar suara ikan yang melompat lompat dalam kardus yang berisikan kubangan
air. Aktivitas pasar berhenti sejenak, alunan musik kroco yang di putar oleh
salah satu penjual terdengar menghampiri perasaan mereka berdua.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang tak
asing di telinga Bintang. Suara pak Joko ! Beliau dengan kencang berlari
melewati gerombolan pengunjung yang mengitari mereka berdua. Memecahkan suasana
ketegangan yang mengitari area pasar.
"Nak Bintang, nak Bintang..." dengan
suara tersengal-sengal kemudian menghampiri Bintang
"Nak Bintang, Bapak mau bicara dengan kamu
sebentar saja. Ini keadaan penting!"
"Ada apa Pak Joko? Bapak mau bicara apa?"
sambil melepaskan tanganya di kedua tangan Donita
"Ayahmu, ayahmu sekarang masuk Rumah
sakit..."
"Apa? Pak Joko serius? Lantas, bagaimana keadaan
ayah saya pak?"
"Ayahmu sekarang dalam keadaan kritis, tadi
siang saat kami berdua mangkal tiba-tiba sebuah mobil datang dari arah selatan
dan kemudian menabrak ayah kamu"
Setelah mendengar berita itu, kemudian Bintang
dengan cepat menarik tangan Pak Joko. Berlari menuju pintu keluar pasar sambil
di ikuti oleh Donita dan Doni beserta beberapa pedagang.
Sesampainya dirumah sakit, mereka semua bergegas
menuju Meja reseptionis menanyakan dimana kamar tempat Ayahnya dirawat. Bintang
berlari dengan kencang meninggalkan mereka semua.Bayang-bayang masa lalu
bersama sang Ayah menyelimuti pikiran Bintang. Ia tak ingin lagi kehilangan
orang yang ia sayangi, begitu pahit dirasakan jika ia harus hidup sendiri di
bawah atap realita yang membuat separuh hidupnya lumpuh.
Tiba di depan kamar dimana Ayahnya dirawat, Bintang
tak bisa diam. Sejenak ia berdiri, melangkah ke depan dan kemudian kesamping,
dan kembali duduk ditempat yang sama. Lantas, Donita segera menghampiri Bintang
mencoba untuk menenangkan perasaanya. Berharap dengan demikian Bintang dapat
sedikit lebih tenang, kemudian di raihnya tangan Bintang yang sedari tadi
gemetar tak karuan.
"Sudahlah Bintang, keadaan Ayah pasti
baik-baik saja kok. Udah ya, tak perlu khawatir seperti itu. Percayalah pada
dokter, pasti semua akan berjalan dengan lancar."
"Tapi Don, aku gak mau sampe Ayah
kenapa-kenapa. Jujur, aku gak mau kehilangan lagi orang yang benar-benar aku
sayang. Sudah cukup, ibu pergi meninggalkanku. Aku gak mau Don.." air
matanya jatuh perlahan membasahi lantai. Kesedihan yang dialami Bintang tak
dapat terbendungi lagi.
"Iya aku tau Bintang. Aku tau apa yang
sekarang kamu rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, kita gak bisa menolak takdir
yang datang kepada kita. Pasti dibalik ini semua ada hikmahnya."
Beberapa menit kemudian, munculah seorang Dokter
dari balik arah Pintu. Bintang bergegas menghampiri dokter itu dan langsung
menanyakan bagaimana keadaan sang Ayah.
“Dokter, bagaimana kondisi Ayah sekarang? Apakah
baik-baik saja? Tolong jelaskan Dok” tanya bintang
“Ayah kamu baik-baik saja cuman butuh istirahat beberapa
hari kalau kondisinya sudah membaik barulah boleh pulang.”
“Syukurlah kalau begitu Dok, saya mengucapkan
terima kasih banyak karena telah menolong Ayah saya” Bintang berkata sambil
sujud di kaki Dokter itu.
“Sudah-sudah nak, ayo bangun. Ini sudah kewajiban
saya sebagai Dokter untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolangan
kami. Kalau begitu silahkan masuk ke kamar untuk menengok keadaanya. Saya mohon
pamit.” Kemudian Dokter itu melangkah meninggalkan mereka semua.
Bintang dan Donita beserta para pedagang lainya
bergegas masuk ke kamar tempat Ayah Bintang dirawat. Beliau tergeletak tak
berdaya, dengan sekujur badan penuh dengan perban dan beberapa jahitan di
wajahnya. Syukurlah luka yang di alami Ayah Bintang tak begitu serius. Bintang
merasa sedikit lega atas kondisi Ayahnya sekarang. Karna Bintang benar-benar
takut kehilangan sosok Ayah yang selama ini memberikan banyak motivasi dan
pelajaran dalam hidupnya. Tak bisa terbayangkan jika beliau meninggalkan
Bintang seorang diri. Mungkin Bintang kehilangan semangat hidup bahkan bisa
saja mengakhiri hidupnya.
Donita masih setia duduk disamping Bintang, ya
hanya dialah wanita satu-satunya yang dekat sekaligus mengerti tentang perasaan
Bintang. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk meninggalkan Bintang disaat dia
terjatuh, karna sebenarnya Donita sangat mencintainya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERSAMBUNG :)





mantap bro........
BalasHapuslanjtkan........
mantab bro....
BalasHapuslanjutkan..........
lanjutkan brew________
BalasHapus