Sedemikian indah nya kita berjalan dalam tumpukan waktu, menelusuri setiap ruas dan hingga pada akhirnya tersendat dalam kehampaan. Aku pernah membayangkan, jika suatu saat nanti dapat berjalan dengan waktu ketika tak ada lagi secercah cahaya yang hinggap dalam jiwaku. Mungkin ia masih menungguku, menunggu saat yang tepat untuk menggenggam separuh ragaku. Aku tak banyak menaruh harapan padanya, tapi memang beginilah jalan hidup yang aku tempuh.
Aku senantiasa merindukan waktu, ketika aku dapat bersenda gurau bersamanya hingga mencurahkan segala yang ada di pikiranku. Ya, karena waktulah yang dapat mengerti tentang logika tak berujung ini. Satu.. Dua.. Tiga hari ke depan telah kami bicarakan sebelumnya. Tapi lihatlah sekarang, ketika aku merancang ini semua bersama dia pada kenyataanya malah tak berujud. Terkadang aku merasa letih untuk menopang raga ini, dari segala penjuru seolah-olah melempariku dengan krikil tajam. Begitu sakit hingga membekas ...
Aku pernah terjatuh, ketika aku tak begitu mengenal waktu bahkan sama sekali tak tahu tentangnya... Aku pernah terpuruk di kala badai kesedihan menerpa seonggokan daging yang ada di hatiku ... Tapi lihatlah sekarang, ketika aku tertatih waktu lah yang menolongku.. Ia datang dengan senyuman indahnya, menyadarkanku dalam kegelapan yang telah lama hinggap. Dia begitu ramah, namun kejam.. Bahkan aku pernah di buatnya tak berdaya.
Genggaman tanganya begitu nyata, memimpinku ke dalam ruas alur kehidupan. Memberikanku banyak pilihan yang membuatku harus berpikir mana yang akan aku ambil ... Waktu tak pernah salah sedikitpun, terkadang kita lah yang sering membuatnya marah. Waktu tak pernah berdusta, ketika seluruh umat membual dalam egoisme justru ia berbicara apa adanya..
Aku menyesal pernah membuat waktu kecewa, penyesalan yang tak akan habisnya. Entah apa yang ada dalam pikiranku sekarang. Aku begitu egois, selalu mengedepankan emosi dalam mimilih keputusan. Tapi waktu tak pernah lelah untuk mengingatkanku.. Tatapan tajam matanya lah yang kini mebuat seluruh bulu kehidupanku menari.
Dia lah waktu, penghias dan pelengkap hidupku.. Tak pernah terbayangkan jika suatu saat nanti aku tak dapat lagi berjumpa denganya. Karna dia begitu berarti dalam setiap aliran darah yang ada dalam ragaku ini.
Waktu ........
Aku senantiasa merindukan waktu, ketika aku dapat bersenda gurau bersamanya hingga mencurahkan segala yang ada di pikiranku. Ya, karena waktulah yang dapat mengerti tentang logika tak berujung ini. Satu.. Dua.. Tiga hari ke depan telah kami bicarakan sebelumnya. Tapi lihatlah sekarang, ketika aku merancang ini semua bersama dia pada kenyataanya malah tak berujud. Terkadang aku merasa letih untuk menopang raga ini, dari segala penjuru seolah-olah melempariku dengan krikil tajam. Begitu sakit hingga membekas ...
Aku pernah terjatuh, ketika aku tak begitu mengenal waktu bahkan sama sekali tak tahu tentangnya... Aku pernah terpuruk di kala badai kesedihan menerpa seonggokan daging yang ada di hatiku ... Tapi lihatlah sekarang, ketika aku tertatih waktu lah yang menolongku.. Ia datang dengan senyuman indahnya, menyadarkanku dalam kegelapan yang telah lama hinggap. Dia begitu ramah, namun kejam.. Bahkan aku pernah di buatnya tak berdaya.
Genggaman tanganya begitu nyata, memimpinku ke dalam ruas alur kehidupan. Memberikanku banyak pilihan yang membuatku harus berpikir mana yang akan aku ambil ... Waktu tak pernah salah sedikitpun, terkadang kita lah yang sering membuatnya marah. Waktu tak pernah berdusta, ketika seluruh umat membual dalam egoisme justru ia berbicara apa adanya..
Aku menyesal pernah membuat waktu kecewa, penyesalan yang tak akan habisnya. Entah apa yang ada dalam pikiranku sekarang. Aku begitu egois, selalu mengedepankan emosi dalam mimilih keputusan. Tapi waktu tak pernah lelah untuk mengingatkanku.. Tatapan tajam matanya lah yang kini mebuat seluruh bulu kehidupanku menari.
Dia lah waktu, penghias dan pelengkap hidupku.. Tak pernah terbayangkan jika suatu saat nanti aku tak dapat lagi berjumpa denganya. Karna dia begitu berarti dalam setiap aliran darah yang ada dalam ragaku ini.
Waktu ........




