Butiran air mata merambat perlahan membasahi seluruh wajahku,
menutupi segala asa yang terlintas dalam jiwa. Aku tak dapat memungkiri
gejolak rasa yang ada, mencoba untuk berlari namun selalu saja
tersandung pada krikil tajam hingga membuatku terjatuh. Sampai kapan aku
mendustai hati ini ? Sampai kapan aku harus menjadi bayangan yang
senantiasa datang dan pergi dalam mimpimu ? Haruskah aku meninggalkan
segala kerinduan yang telah menggunung dalam hatiku ?
Setiap detik waktu yang berjalan perlahan, sosokmu slalu saja tersenyum manis di hadapanku. Seakan-akan dirimu tak pernah merasa bahwa aku telah melukai sisi hatimu. Engkau masih saja berdiri tegar disampingku dan membuatku malu atas perbuatan yang tak seharusnya aku lakukan dalam hubungan kita. Entah mengapa, akhir-akhir ini ada rasa penyesalan yang selalu menghantui segala langkahku. Mencoba membanngunkanku dari mimpi yang telah membuatku tertidur dalam kepalsuan.
Aku tlah mencoba bertanya pada cermin tua tentang diriku. Karna selama ini aku merasa ragu, apakah ini sosok diriku yang sebenarnya ? Karna semakin jauh melangkah, bayanganku tak lagi nampak disampingmu. Lantas kemana perginya bayanganku itu ?
Aku hanya bisa terdiam dalam sejuta pertanyaan yang semakin hari semakin mendesaku pada sudut dalam hatiku. Dan apakah kamu tahu ? Angan beserta jiwa membawa ku pada sebuah lubang besar nan dalam, mereka menunjukan letak dimana bayanganku berada. Bayanganku terpasung pada sebuah balok yang bernama keraguan. Ya memang aku akui, selama ini aku ragu atas semua yang terjadi dalam hidupku termasuk ragu pada hubungan kita. Aku memang bodoh, telah meragukan seorang gadis yang dahulu benar-benar aku cintai, seorang wanita yang dengan sabar menungguku, dan mencoba mempertahankan apa yang seharusnya tak pantas untuk di pertahankan.
Aku yang salah dalam mengambil jalan hidupku, meninggalkanmu demi sebuah mimpi yang masih berselimutkan awan tebal. Mengurungmu dalam ketidak pastian hingga tak mampu lagi air matamu mengalir dan menggambarkan betapa dirimu mencintaiku seutuhnya. Aku selalu merasa bahwa aku hanyalah seorang lelaki yang tak pantas menggenggam erat jemarimu dan bahkan mengajakmu pergi aku pun tak layak.
Memang selama ini cinta telah memberikan pelajaran dalam hidup kita, membukakan setiap pasang bola mata untuk dapat melihat mana yang pantas untuk dipertahankan dan mana yang pantas untuk di akhiri. Namun terkadang cinta menggiring kita pada persimpangan jalan, menciptakan keraguan dalam hati. Cinta selalu saja tahu cara yang tepat untuk menggambarkan setiap potongan luka, menjadikan nya satu dalam sebuah wadah kerinduan pada kenangan yang telah lama tercipta. Jika memang cinta yang mendorong jarak diantara kita semakin jauh maka biarlah terjadi apa adanya. Karna diantara jarak tersebut mempunyai sebuah celah yang nantinya akan menyatukan masing-masing kerinduan menjadi satu dan menarik kita ke dalam kedamaian yang sebenarnya. Maka biarkanlah alunan cinta menari-nari dalam benak dan jiwa raga kita agar suaranya yang merdu dapat terdengar hingga merasuk ke dalam hati. Sebab cinta yang tercipta dari sepotong kerinduan, kelak akan membangun fondasi yang kokoh dalam rumah tangga
Setiap detik waktu yang berjalan perlahan, sosokmu slalu saja tersenyum manis di hadapanku. Seakan-akan dirimu tak pernah merasa bahwa aku telah melukai sisi hatimu. Engkau masih saja berdiri tegar disampingku dan membuatku malu atas perbuatan yang tak seharusnya aku lakukan dalam hubungan kita. Entah mengapa, akhir-akhir ini ada rasa penyesalan yang selalu menghantui segala langkahku. Mencoba membanngunkanku dari mimpi yang telah membuatku tertidur dalam kepalsuan.
Aku tlah mencoba bertanya pada cermin tua tentang diriku. Karna selama ini aku merasa ragu, apakah ini sosok diriku yang sebenarnya ? Karna semakin jauh melangkah, bayanganku tak lagi nampak disampingmu. Lantas kemana perginya bayanganku itu ?
Aku hanya bisa terdiam dalam sejuta pertanyaan yang semakin hari semakin mendesaku pada sudut dalam hatiku. Dan apakah kamu tahu ? Angan beserta jiwa membawa ku pada sebuah lubang besar nan dalam, mereka menunjukan letak dimana bayanganku berada. Bayanganku terpasung pada sebuah balok yang bernama keraguan. Ya memang aku akui, selama ini aku ragu atas semua yang terjadi dalam hidupku termasuk ragu pada hubungan kita. Aku memang bodoh, telah meragukan seorang gadis yang dahulu benar-benar aku cintai, seorang wanita yang dengan sabar menungguku, dan mencoba mempertahankan apa yang seharusnya tak pantas untuk di pertahankan.
Aku yang salah dalam mengambil jalan hidupku, meninggalkanmu demi sebuah mimpi yang masih berselimutkan awan tebal. Mengurungmu dalam ketidak pastian hingga tak mampu lagi air matamu mengalir dan menggambarkan betapa dirimu mencintaiku seutuhnya. Aku selalu merasa bahwa aku hanyalah seorang lelaki yang tak pantas menggenggam erat jemarimu dan bahkan mengajakmu pergi aku pun tak layak.
Memang selama ini cinta telah memberikan pelajaran dalam hidup kita, membukakan setiap pasang bola mata untuk dapat melihat mana yang pantas untuk dipertahankan dan mana yang pantas untuk di akhiri. Namun terkadang cinta menggiring kita pada persimpangan jalan, menciptakan keraguan dalam hati. Cinta selalu saja tahu cara yang tepat untuk menggambarkan setiap potongan luka, menjadikan nya satu dalam sebuah wadah kerinduan pada kenangan yang telah lama tercipta. Jika memang cinta yang mendorong jarak diantara kita semakin jauh maka biarlah terjadi apa adanya. Karna diantara jarak tersebut mempunyai sebuah celah yang nantinya akan menyatukan masing-masing kerinduan menjadi satu dan menarik kita ke dalam kedamaian yang sebenarnya. Maka biarkanlah alunan cinta menari-nari dalam benak dan jiwa raga kita agar suaranya yang merdu dapat terdengar hingga merasuk ke dalam hati. Sebab cinta yang tercipta dari sepotong kerinduan, kelak akan membangun fondasi yang kokoh dalam rumah tangga



