Kekasih Bingkisan Tuhan



Kali ini aku akan bercerita tentang kisah cinta antara Gita dan Dito. Kisah cinta yang amat sederhana dan berakhir dengan keputusan Dito untuk meninggalkan Gita selama-lamanya.
Namanya Gita, gadis berparas cantik dan elok. Lahir dari keluarga kaya raya dengan ayah berprofesi sebagai salah satu manager di sebuah hotel terkemuka di Pusat kota. Gita yang saat ini tengah menempuh bangku kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta harus menjalani kehidupanya sendiri demi masa depanya. Tinggal di kontrakan yang sederhana dan setiap minggu dia selalu bolak-balik ke kampung halamanya hanya untuk berkumpul dengan keluarga tercinta.
Sedangkan Dito, pria tampan yang keseharianya berprofesi sebagai pengamen di terminal. Pekerjaan mengamen harus dia lakukan agar dapat melangsungkan kehidupanya serta membantu perekonomian keluarga. Sejak usia 18 tahun, ia sudah pergi merantau meninggalkan kampung halamanya. Semua itu ia lakukan sejak Ayahnya meninggal dunia 2 tahun yang lalu akibat kecelakaan. Di tambah lagi, Ibunya sudah lama mengidap penyakit jantung yang sudah cukup parah. Setiap kali kambuh, Ibunya harus segera di bawa ke dokter. Untuk biaya pengobatan Ibunya, Dito rela bekerja siang dan malam demi kesembuhan Ibunda tercinta.
Kisah cinta antara Gita dan Dito terjalin ketika Dito sudah lama menyimpan rasa kepada Gita. Awal pertemuan itulah yang membawa Dito untuk terus menggali informasi tentang siapa Gita sebenarnya.

*************
Di pagi yang cerah dan kicauan burung mewarnai udara, aku bergegas untuk mempersiapkan diri berangkat menuju kampung halaman. Rupanya sanak saudara akan datang ke rumah dalam rangka ziarah bersama yang selalu di lakukan setiap tahun menjelang bulan puasa. Tiket bis sudah aku pesan jauh-jauh hari, dan saatnya aku berangkat menuju terminal. Sesampainya di terminal, aku mencari bis yang akan aku tumpangi. Oh rupanya bis itu telah lama menunggu ku di sana.
Didalam bis yang lumayan ramai, aku mencari tempat duduk yang telah tertera pada karcis. Nomer bangku 8, tempat duduk ku berada tidak jauh dari mulut bis dan untunglah aku kebagian tempat duduk di pojok jendela sehingga aku dapat melihat pemandangan. Lumayan cukup lama aku menunggu keberangkatan bisnya, dan beberapa menit kemudian datanglah seorang pengamen yang hendak mencari nafkah di dalam bis ini. Lumayan bagus suaranya, sedikit menghiburku. Dan dia berjalan sambil membawa kantong uang meminta sedikit rejeki pada penumpang yang ada didalam bis ini. Tibalah dia datang ke arahku, dan ku rogoh saku kantungku. Didapati uang lima ratus rupiah, dan segeralah aku beri kepadanya, “ terima kasih mbak Gita”, kata pengamen dalam bus yang aku tumpangi ketika aku memberinya uang lima ratus rupiah. Aku pun terperangah kaget lalu ku lihat-lihat pengamen itu sambil ku bertanya-tanya kepada diriku sendiri siapa pengamen itu? Kenapa tahu namaku? Aku hanya bisa terdiam sambil memandang pemandangan di luar sana.
Akhirnya bis yang aku tumpangi sampai tujuan juga. Aku bergegas untuk turun dan mencari kendaraan umum yang akan membawaku sampai ke rumah. Rupanya nggak begitu lama, kendaraan yang aku cari datang juga.
Sesampainya dirumah, keluarga dan sanak saudara menyambutku dengan meriah. Terlebih lagi keponakanku yang lucu, datang dan menyium tanganku “Tante baru datang ya? Mana oleh-oleh buat Dika? Kan tante dulu pernah janji sama Dika mau membawakan oleh-oleh”, kata Dika sembari memegang tanganku. “Oya Dika, ini oleh-oleh dari tante. Mainan buat Dika.”, kataku kepada Dika lalu dia beranjak pergi meninggalkanku.
Aku bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri karena semua keluarga telah menantiku di meja makan. Terdengar suara Ibu memanggilku dari luar kamar “Ayo Git segeralah kamu keluar kamar. Mari kita makan bersama, kebetulan ibu memasak makanan kesukaanmu.” Iya bu, sebentar”, kataku sambil memakai pakaian. Aku segera menuju meja makan, dan benar sekali. Ibu memasak makanan yang membuatku benar-benar ingin menyantapnya dengan lahap.
Setelah kami semua selesai makan malam, aku mengajak ibu untuk duduk bersama di pinggir taman rumah. Aku ingin bercerita tentang apa yang aku alami sewaktu di dalam bis tadi. Sesuatu yang hingga saat ini masih membuatku bertanya-tanya. “Sebenarnya ada apa Git, kok tumben sekali kamu mengajak ibu berbicara berdua?”, dengan raut muka ibu yang terlihat penasaran. “Jadi begini bu, tadi sewaktu perjalanan menuju rumah aku bertemu dengan pengamen. Ya boleh di bilang pengamen itu lumayan cakep, dan anehnya lagi dia tau namaku. Kira-kira siapa ya bu? Aku kok jadi penasaran.”. kataku kepada Ibu yang dari awal telah memperhatikanku. Dengan sedikit tertawa ibu berkata, “Mungkin itu teman dekatmu atau jangan-jangan fans beratmu? Kan bisa jadi..” “Ya tapi aku benar-benar nggak tau siapa dia bu. Masa orang jelek seperti aku ada yang suka? Ah.. kayaknya nggak mungkin banget bu.”. kataku sembari meminum teh yang ibu buatkan. “Udahlah Git, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula dia cuma seorang pengamen kan? Nggak lebih dari itu. Harusnya kamu bersyukur, banyak orang yang mengetahui namamu. Ya udah, ayo kita masuk ke rumah. Sudah waktunya untuk beristirahat. Kan besok kita harus ziarah ke makam kakek dan nenek.”, kata ibu sambil mengajaku masuk kerumah. Perbincangan kali ini tidak menemui jalan keluar, hal asil aku hanya bisa memendam rasa penasaran ini.

**********
Matahari pagi telah terbangun dari tidurnya, dan memaksa aku untuk bergegas mempersiapkan segalanya. Aku bangun dari kasur empuk ku, merapikan kamar, dan menuju kamar mandi. Aku menghirup udara pagi yang terasa berbeda dari biasanya. Udara yang sungguh sejuk dan memberikanku semangat baru di pagi ini. Aku baru ingat, kalau hari ini aku ada acara dengan keluarga untuk ziarah ke makam kakek dan nenek.
Di ruang tamu saudara-saudaraku telah siap untuk berangkat, dan untungnya aku tidak terlambat. Dengan muka yang ganas, ayah menghampiriku “Gita, sudah jam berapa ini. Kenapa kamu baru bangun? Untung saja kamu tidak kami tinggal. Ayo cepat, masuk mobil sana!”. Aku hanya bisa tertunduk sambil menuntun langkahku menuju mobil.
Di tengah perjalanan, aku masih memikirkan sosok pria itu. Ah, kenapa pria itu masih saja hinggap dalam pikiranku? Seakan-akan ada sesuatu yang membuatku harus bertemu denganya kembali. Lamunanku tersadar ketika pundaku ditepuk oleh Ibu. Kami semua berjalan menelusuri nisan-nisan dan gundukan rumah masa depan. Tempat dimana kita semua akan beristirahat kelak. Langkahku terhenti ketika telah tiba pada nisan kakek dan neneku. Suasana di pemakan seketika itu juga berubah menjadi hening. Dan di ujung sana, Ayah berdiri sambil menuntun kami untuk berdoa bersama. Taburan bunga dan sebotol air mengakhiri ziarah kami di siang hari ini.
Setiba dirumah, aku baru ingat kalau besok aku harus sudah sampai di kontrakan. Karena siang harinya aku ada keperluan dikampus dan aku harus benar-benar sudah sampai pagi harinya. Dengan cepat kilat, aku masuk kamar dan mempersiapkan segalanya. Jam dinding sudah menunjukan pukul tiga sore, untung saja nanti aku menggunakan bis. Bisnya baru berangkat pukul tujuh malam nanti jadinya aku masih ada waktu untuk berpamitan dengan semuanya.
Lagi asiknya beres-beres barang bawaan, tiba-tiba ibu datang menghampiriku dan berkata “Gita, kenapa kamu sudah beres-beres? Bukankah liburan masih 2 hari lagi?” “Iya bu, Gita lupa kalau besok Gita ada  keperluan di kampus. Gita harus mengumpulkan tugas yang diberikan dosen kemarin.”, sembari aku memasukan pakaian dan barang bawaanku ke dalam koper. “Ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan. Oya, semoga saja kamu bertemu lagi dengan pengamen itu.”, kata ibu sambil mencubit pinggangku dan bergegas pergi keluar kamar.
Semuanya telah siap masuk koper, dan saatnya mandi setelah itu berangkat. Perjalanan yang membawaku kembali pada rutinitas yang cukup membosankan. Bangun tidur, beres-beres kamar, mandi, berangkat kuliah, dan masih banyak lagi kegiatan yang aku lakukan tiap harinya. Ingin rasanya mengakhiri pendidikanku dijenjang mahasiswa ini. Ingin segera bekerja dan menjadi wanita karir, suatu impian yang sangat aku inginkan.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore dan saatnya aku harus berpamitan dengan keluarga dan bergegas menuju terminal. “Hati-hati ya nak, semoga selamat sampai tujuan. Dan ingat pesan ayah, kamu harus belajar yang tekun agar cepat-cepat diwisuda. Oya satu hal lagi, kamu disana jangan boros. Mencari uang itu susah, pergunakanlah uang pemberian Ayah dengan hemat.”, kata ayah sambil mencium kedua pipiku. “Iya ayah, pasti. Gita mengerti kok.”, lalu aku bergegas pamitan. Sopir keluarga telah menantiku di luar sana. “Pak Budi, tolong antarkan aku ke terminal ya.”, kataku sambil membuka jendela dan melambaikan tangan keluar.
Mobil melaju cepat di tengah hiruk pikuk jalanan yang padat merayap. Udara malam ini sungguh menusuk sekujur ruas-ruas tulangku. Untung saja aku tidak lupa mengenakan jaket tebal buatan Negeri Kanguru. Cukup hangat dan melindungiku dari dinginya udara.
Akhirnya sampai juga di terminal bis, telah lumayan ramai penumpang yang hendak berpergian. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang membuat denyut jantungku berdetak dengan keras. Ah, aku pikir ini cuma perasanku saja. Langkahku melaju menuju mulut pintu bis, dan segera aku mencari bangku yang kosong. Menaruh barang bawaan, kemudian duduk dengan tenang sembari menunggu bis berangkat.
Tak sadar, ternyata aku terlelap dalam tidur. Dan ketika aku terbangun, di sebelahku telah duduk seorang pria yang tidak asing lagi. Oh, ternyata dia pengamen yang waktu itu. Perasaanku seketika itu juga berubah menjadi gugup, ingin sekali aku bertanya kepadanya. Tetapi aku malu, ya karena aku orangnya memang pemalu. Akhirnya  aku memaksa rasa malu itu untuk pergi, dan mulai untuk bertanya kepada pria itu, “Permisi mas, kalau tidak salah bukanya waktu itu kita pernah bertemu di dalam bis? Apakah mas masih ingat? Sejenak dia berpikir dan berkata “oh iya, aku masih ingat. Mbak Gita kan? Aku nggak lupa kok mbak. Masa cewek cantik seperti mbak aku bisa lupa. Ya nggak mungkin. “ Hahaha. Bisa saja kamu ini. Oya, kalau boleh tau. Kenapa kamu bisa tau namaku? Kan kita sebelumnya tidak pernah bertemu.”, tanyaku dengan penuh rasa penasaran. “Sebenarnya sih, aku udah lama tahu nama mbak dari salah satu teman dekatku. Dia kebetulan satu kampus dengan mbak. Sebelumnya, aku sering kali melihat mbak di terminal. Dan semenjak itu, aku mulai mencari-cari informasi tentang mbak.”, katanya sembari menatap kedua bolah mataku. “Jadi, ceritanya kamu naksir sama aku? Dan kenapa juga kamu sekarang ada di dalam bis ini? Bukanya kamu seharusnya mengamen?”, tanyaku kepadanya dengan berjuta rasa ingin tahu. “Ya boleh dibilang begitu mbak. Aku naik bis ini soalnya aku hendak pergi menjenguk Ibu di kampung halaman. Kebetulan Ibu sakit dan aku harus menemaninya disana.”, dengan muka bersedih dia menceritakan kondisi kesehatan ibunya yang telah lama sakit. Ibunya mengidap penyakit jantung dan kerap kali kambuh. Jika sedang kambuh, biasanya hanya di beri obat dan ke esokan harinya sudah agak membaik. Tapi kali ini, dia terpaksa harus pulang kampung. Rupanya sakit yang diderita ibunya sudah mulai parah dan terpaksa harus menginap di rumah sakit.
Akhirnya bis yang aku tumpangi sampai juga, aku dan pria itu sama-sama turun dari bis dan mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Aku menghela nafas dalam-dalam, dan masih ingat sekali beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan pria ini dan sekarang dia sudah ada disampingku. Sungguh suatu kebetulankah? Atau memang ada rencana dibalik ini semua? Semoga saja bukan hal buruk yang akan terjadi padaku nanti. Sambil aku menunggu jemputan, aku bertanya kepadanya, “Kalau boleh tau siapa namamu? Kan tadi kita belum kenalan. Ya walaupun kamu sudah tau terlebih dahulu namaku.” Dengan menyodorkan tanganya dia berkata, “Perkenalkan namaku Dito. Asli dari Yogyakarta.” Sejenak aku berpikir, ternyata dia anaknya sopan juga ya. Walaupun, profesi dia sehari-hari sebagai pengamen tetapi tidak merubah sifat aslinya yang ramah dan baik hati.
Semenjak pertemuanku dengan Dito waktu itu, hubungan kita terus berlanjut. Hari demi hari kita sering berjumpa, dan pada akhirnya cinta itu bersemi. Cinta yang berawal dari pertemuan tidak sengaja di sebuah bis. Cukup mengesankan dan tidak terduga. Memang, tidak ada yang tahu satupun akan kehadiran cinta karena hadirnya bagaikan angin yang berhembus cepat, tak berwujud tetapi dapat kita rasakan.
Sudah cukup lama hubungan ini berjalan dengan lancar, hingga pada suatu hari di pagi yang cerah Dito mendapatkan kabar dari salah satu saudaranya di kampung. Kabar yang membuat Dito benar-benar merasa kehilangan separuh jiwanya. Ibu Dito meninggal dunia! Sebelumnya tidak ada yang tahu tentang hal itu. Karena meninggalnya Ibu Dito baru di ketahui ketika tentangganya hendak berkunjung ke rumahnya. Didapati beliau telah terkujur kaku di atas ranjang tua reot yang menjadi saksi atas kepergian Ibunda Dito untuk selama-lamanya.
Akhirnya kami berdua pada saat itu juga memesan tiket bis untuk keberangkatan esok hari. Di tengah-tengah cuaca yang panas, kami berdua duduk di sebuah taman yang sepi. Sembari aku menatap matanya dan berkata, “Tabahkanlah hatimu sayang. Mungkin ini memang telah menjadi takdir. Tiada satu orangpun yang tahu akan hadirnya kematian, dan kita sebagai hambaNya harus bersikap sabar dan lapang dada. Karena ini semua sudah menjadi kodrat dari Sang Maha Kuasa. Aku yakin kok, Ibu telah tenang di alam sana. Sudah ya sayang, jangan lagi bersedih.” Dito hanya bisa meneteskan air mata dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Ya, aku tahu sekali apa yang dirasakan oleh Dito saat ini. Kehilangan Ibunda tercinta bagaikan kehilangan separuh nyawanya yang sangat berharga. Apalagi selama ini dia di asuh dan dibesarkan oleh Ibunya. Karena Ayahnya telah dahulu pergi meninggalkan mereka berdua. Aku nggak kebayang, jika misalnya aku menjadi Dito. Pasti rasanya ingin juga mengakhiri hidup ini.

**********
Waktu keberangkatan bis tinggal setengah jam lagi. Aku harus segera menghampiri Dito dan bergegas menuju terminal. Sesampainya disana, Dito telah siap untuk berangkat. Tetapi seketika itu juga suasana berubah menjadi sunyi. Dito menghampiriku dan berkata, “Kau adalah kekasih bingkisan Tuhan. Betapa beruntungnya aku memilikimu. Terima kasih, selama ini kamu telah mencintai dan menyayangiku dengan tulus.” Diam.. ya aku hanya bisa terdiam ketika Dito mengucapkan kata-kata itu. Seakan-akan tiap kata yang dia ucapkan mempunyai arti yang mendalam. Ah, mungkin ini hanya pikiranku saja. “Ya udah, ayo sayang kita berangkat. Nanti kita bisa terlambat.”, kataku sembari menarik tangan Dito dan menuntunya masuk ke dalam mobilku.
Di sepanjang perjalanan, aku memperhatikan Dito. Terlihat gusar tersirat pada wajahnya. Nampak sekali, ke dua bola matanya menatap kosong ke arah jendela. Seakan-akan pikiranya terbang entah kemana. Akhirnya kita sampai juga di terminal. Langsung mencari bis yang akan membawa aku dan Dito ke kampung halaman yang dimana Ibu Dito akan di semayamkan.
Tiba juga di kampung halaman, dimana Dito lahir dan dibesarkan. Kampung halaman yang indah, damai , dan aku merasakan suasana yang tidak seperti biasanya. Di kediaman Dito telah banyak sekali pelayat yang datang. Tercium aroma kesedihan merasuk ke dalam tubuhku. Beginikah rasanya kehilangan seseorang yang kita sayang? Tak ada satupun kata yang mampu terucap untuk melukis rasa kesedihan yang mendalam, hanya butiran jiwa yang mampu mewakili setiap kata dari sapaan kesedihan.
Aku melihat ke arah Dito, dan ku dapati dia begitu lemas. Pandanganya tertuju pada jenazah Ibunda tercinta. Tetesan air mata itu terus membanjiri ke dua pipinya. Isak derai-derai kesedihan nampak jelas pada wajahnya. Sungguh, tak terduga semuanya akan seperti ini.
Jenazah ibunda Dito pun akhirnya di berangkatkan ke persemayaman yang terakhir, taburan bunga dan lantunan doa mengiringi keberangkatanya. Tetapi aku tak melihat di mana Dito berada, kemanakah dia? Ah paling juga dia menunggu dirumah.  
Di pemakaman telah siap liang lahat yang akan menyambut kedatangan jenazah Ibunda Dito, perlahan tapi pasti jenazah di masukan ke dalam. Lantunan doa berkumandang, memenuhi pemakaman. Tetesan air mata kesedihan tertumpah jelas pada setiap kerabat dan sanak saudara yang di tinggalkanya. Tubuh tak bernyawa itu pada akhirnya telah kembali ke asalnya. Doa-doa terpanjat dan satu persatu mereka meninggalkan pemakaman.

*****************
Di tengah perjalanan hendak kembali ke rumah, tiba-tiba salah satu warga berlari ke arah ku. Dengan terbata-bata dia berkata. “Mbak Gita, ayo cepat ikut aku ke rumah.” “memang ada apa pak? Kok sepertinya ada sesuatu yang serius?,” tanyaku kepada bapak itu dengan rasa penasaran. Bapak itu hanya diam, dan membawaku ke dalam rumah. Di dalam rumah, telah penuh dengan warga lainya, dan ternyata Dito telah tergantung di dalam kamarnya, leher terikat oleh tali tambang yang terkait pada atap kamar, sekujur tubuhnya kaku dengan lidah menjulur ke luar dan aku mendapati sepucuk surat di atas meja. Segera aku buka surat itu, dan perlahan aku baca sambil air mata ini tercurahkan dengan deras.
Dear Gita.
Sejak pertama kali aku melihatmu, aku merasakan gejolak yang seakan-akan ingin membawaku ke dalam hatimu. Tatapan indah ke dua bola matamu telah menghipnotis duniaku. Kau hadir di saat yang tepat, ketika aku benar-benar hancur dan tak tau harus berbuat apa. Saat ini Ayah dan Ibu telah tiada, aku tak sanggup untuk melanjutkan kehidupan ini. Mungkin cara yang aku ambil salah di matamu, tapi harus aku lakukan. Jujur, aku telah bahagia dapat memilikimu dan sempat jatuh hati padamu. Maafkan aku karena aku harus pergi walau sebenarnya aku tak ingin meninggalkanmu sendirian. Kenangan yang telah kita rajut akan selalu ada di benaku. Apalagi kenangan pada saat kita bertemu untuk ke dua kalinya di dalam bis. Jujur, aku tak mengira itu adalah kamu. Dan memang waktu telah menemukan kita, tetapi juga aku telah memilih waktu untuk memisahkan kita. Sekali lagi aku minta maaf.
I Love you Gita.
Kekasih Bingkisan Tuhan.

Tak terasa air mata telah membanjiri pipi ini ketika aku baca surat yang  Dito tulis untuku. Pesan terakhir yang ia sampaikan. Aku amat menyesali cara yang ia pilih untuk mengakhiri hidupnya. Aku tak menyangka dia akan senekat itu, padahal aku telah berusaha untuk menguatkanya di kala dia benar-benar sedang goyah. Dito, asalakan kamu tahu bahwa aku sangat sayang padamu. Bahkan ketika kita berjumpa pertama kali, wajahmu lah yang selalu terngiang dalam kehidupanku. Jika memang akan berakhir seperti ini, seharusnya engkau tak datang dalam kehidupanku. Tapi aku bersyukur, telah merasakan cinta yang tulus untuk pertama kali. Di masa lalu, aku sering di khianati dan di sakiti. Ya walaupun perpisahan ini belum bisa aku terima tapi aku akan berusaha untuk menerima semua kenyataan yang ada. Kenyataan yang akan membuatku untuk tetap melangkah tanpamu. Selamat jalan sayang … selamat tinggal … kau kan selamanya ada dihati dan aku memaklumi keputusanmu untuk pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.





Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

Copyright (c) 2011 Asisteneptunus .