Ketika Maut Memisahkan Cinta

Masih kuingat semua ceritamu padaku, ketika engkau duduk di samping dan berkata“walau apapun yang terjadi aku akan selalu sayang sama kamu” kata-kata itu selalu ku dengar di telinga ku ini. Aku tahu semuanya itu rencana TUHAN untuk kita berdua.

Di awal bulan September tahun 2009 menjadi awal pertemuan kita. Waktu itu, engkau terlihat sangat manis dengan pakaian busana bagai permaisuri raja. Masih teringat jelas, saat itu bertepatan dengan ulang tahun sahabatku, engkau turut hadir ke pesta ulang tahunya. Senyumanmu dan kedua bola matamu seakan-akan telah menghipnotisku dan membuat seluruh raga ini menjadi gemetar. Dalam hati aku selalu bertanya "siapa gerangan namamu, ingin sekali aku berbincang dan bercengkrama denganmu".


Keinginanku itu akhirnya terwujud, dikala aku duduk sendri di tepian sungai dalam dinginya malam kerabatku yang bernama Toni datang menepuk pundaku. Memecahkan kesunyian sore hari, " Eh don! sedang apa kau disini? kelihatanya kau sedang memikirkan sesuatu?" " ah, aku sedang ingin menyendiri saja. Hawanya males banget dirumah, lagi pula kan besok juga libur kuliah. Dari pada boring, mendingan aku disini sambil ngelihatin burung-burung pada bernyanyi." "ahahaaa... dasar kau saja yang tidak punya cewek. coba saja kau punya cewek, pasti nggak kayak gini. iya kan?""idih, tau aja kamu ini. Eh ngomong-ngomong itu siapa cewek dibelakangmu? sepertinya aku mengenal dia? tapi aku lupa dimana aku melihatnya" " oalah ..perkenalkan. ini sahabatku. Lela. Dia tadi aku ajak sewaktu aku ingin membeli buku di toko depan rumah kamu." Lalu Bobi pun mengenalkan Lela padaku. Terasa seperti di sengat listrik ribuan volt.
" Perkenalkan, nama saya Lela. Aku sahabatnya Bobi sejak kami masih duduk di bangku TK." [ Dengan tangan gemetar aku mengajukan tangan ] " Aku Doni, teman sebangku sekolahnya. Kami bisa dibilang kayak prangko. Kemana-mana selalu berdua. Sampe-sampe pernah digosipin disekolah kalau kami ini pasangan Homo. Hahahahhaha... ada-ada saja..."

Sejak perkenalan itu, akhirnya aku dan dia menjadi lebih akrab. Bahkan sering juga kami keluar bareng untuk sekedar makan dan berbincang-bincang. Sungguh betapa gembiranya hatiku ini, dapat berbicara dan menatap ke dua matanya secara langsung. Aku tidak pernah bisa membayang kan bagaimana jadinya, jika suatu saat nanti dia menjadi pendamping hidupku. Mungkin setiap hari aku akan selalu betah dirumah dan nggak main-main sama wanita lain.

Akhir pekan di musim panas, saat itu sedang ada acara perayaan kecil-kecilan di kampusku. Ya seperti agenda tahunan, dan itu sering kami rayakan setiap tahunya. Perayaan yang bertemakan dansa, semua peserta mahasiswa diwajibkan mengenakan pakaian dansa dan yang paling membuatku enggan mengikuti acara ini adalah setiap murid harus dan wajib mengajak seorang wanita untuk menjadi pasangan dansanya. Pasti, setiap acara ini datang aku selalu saja beralasan ini dan itu. Tahun lalu aku beralasan sedang ada acara keluarga dan untungnya saja mereka para pengurus acara percaya dengan mudahnya. Dan untuk tahun ini, aku nggak tau harus alasan apa lagi. Serasa benar-benar kehabisan kata.

Sejenak aku terdiam di sebuah kasur yang empuk dalam kamarku. Otak ini sudah aku putar-putar tujuh keliling masih saja tidak aku temukan alasan yang tepat. Hingga pada akhirnya, aku tidak sengaja membuka kotak masuk pada ponselku dan aku dapati nama LELA dalam kotak masuk pesanku itu. Yes ! akhirnya aku tau jawaban itu. Akhirnya aku menyusun rencana untuk mengajaknya ke pesta dansa yang akan dilaksanakan 2 hari mendatang. Oke. Rencana pertama, aku akan sms dia. Menanyakan 2 hari kedepanya ada acara atau tidak. Rencana yang kedua, aku ketemuan sama dia, ya sembari melepaskan rinduku ini [ jujur, aku sudah lama sekali tidak bertemu sama dia. ya mungkin karena terlalu padatnya acaraku. mulai dari rapat pengurus, sampai bimbingan belajar ]. Dan rencana terakhir, mengajak dia. Semoga saja rencanaku ini berhasil.

Akhirnya esok hari telah datang. Di pagi yang sungguh cerah dan udara yang segar merasuk ke dalam kamarku yang tidak terlalu besar. Terlihat sungguh indah, kupu-kupu berterbangan dengan iringan kicau burung pipit yang menambah suasana sejuk di pagi hari itu. Oke, aku bergegas mengambil ponselku dan di mulailah rencana pertama yaitu mengirimkan pesan singkat ke Lela.
" Selamat pagi Lela. Semoga saja pagimu ini indah seindah kicauan burung diluar sana. Kamu sudah bangun dari tidurmu kan? oh ya, langsung saja. Nanti sore bisakah kita bertemu ditempat biasa? ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Pesan singkat telah aku kirim. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering dan betapa terkejutnya aku, Ternyata itu balesan dari Lela. Segera saja aku buka pesanya " Selamat pagi juga. Nanti sore ya? Oke deh. Nanti sore aku kabarin lagi. Soalnya, kebetulan nanti sore aku hendak pergi ke toko buku."
Setelah aku baca pesan singkat itu, aku membalasnya " Oke deh kalau begitu. Nanti sore kabarin lagi saja ya. Aku tunggu..." Setelah sudah aku kirim, terasa jantung ini berdetak begitu cepat. Entah inikah yang dinamakan jatuh cinta ? begitu indah aku rasakan. Sengatan kecil ini seakan-akan telah menggelitik seluruh urat syaraf disekujur tubuhku ini. Oh, indahnya jatuh cinta...

Sore hari pun tiba. Tepat pukul 16.00, hapeku berdering. Ternyata pesan singkat dari Lela. " Hai Don. Sekarang juga aku tunggu ditempat biasa ya.." Wauw ! aku membaca pesan singkat itu seakan-akan seperti aku mendapatkan hadiah tak ternilai harganya. Segera saja aku mandi dan merapikan diri. Supaya terlihat cool di depan Lela.
Oke.. semua telah aku persiapkan, dan saatnya untuk menemui Lela. Dengan mengendarai Motor Vespaku, aku melaju dijalanan. Disepanjang jalan, aku terus merasakan getaran jantung yang berdetak sungguh kencang. Aku percepat laju vespaku, dan akhirnya telah sampai di sebuah warung kopi tempat biasa aku dan Lela berbincang-bincang.

Setelah aku turun dari vespa, segera aku memasuki toko itu. Aku menengok kekiri dan kekanan mencari dimana Lela. Dan terdengar suara lembut memanggil namaku "Hai Don. Sudah agak lama aku menunggumu disini" "heheheheee.. Maaf sekali, tadi jalan sempat macet. Ya maklumlah, rumahku dekat dengan jalan utama, jadi ya begitu. Oh iya, bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama tidak berjumpa. Maklumlah, aku terlalu sibuk dengan urusan ini dan itu. " "eheheheeee .. kabarku baik-baik saja. Iya-iya aku maklumin. Kan kamu dikampus menjadi mahasiswsa teladan, jadinya serba sibuk deh." " ah.. bisa saja kamu ini. Oh iya, tadi kamu ke toko buku membeli buku tentang apa? sepertinya sangat menarik deh?" "oh ini, kebetulan kan aku sedang mencari bahan untuk berita akhir pekan di kampus. Ya aku cuma sekedar mencari info-info saja. Siapa tau dapat." "Oh begitu. aahahaaa .... semoga sukses deh. Oya, kan besok itu dikampusku ada acara dansa. Ya acara kecil-kecilan. Nah, kan kalau dansa harus sama pasangan. Tau sendirilah, aku ini belum punya pacar, mau nggak kamu menemani aku berdansa? ya kalau itu tidak keberatan sih. [ Sebenarnya, aku mengatakan itu sambil dag dig dug. Uh... Sangat berat banget bibirku ini. Kayak gelagepan saja ] "Oh begitu ya? Hem.. Gimana ya? Kenapa kamu nggak ngajak cewek yang lain saja, kan masih ada tuh yang lebih cantik dari aku?" [ Derrrr ! seperti disambar petir ketika Lela bicara kayak gitu. Pasti ujung-ujungnya dia menolak ajakanku, hadeh... ] "Ya bukan seperti itu.. Aku mengajak kamu, soalnya cuma kamu yang pantas mendampingi aku dansa ( dengan jurus gombal )""Oh jadi begitu? Oke deh.. Aku mau.." [ Yes! akhirnya gombalanku manjur juga. Betapa seneng hatiku ini. Tak dapat aku lukiskan deh pokoknya. ] "Kalau begitu, besok aku jemput kamu jam 07.00 ya? harus sudah cantik dan wangi. Oke tuan putri?" "ahahaa .. bisa aja kamu ini. Iya-iya deh" "Oke deh. Sampai bertemu besok ya?"

Sesampainya dirumah, aku bergegas ke kamar. Hah ! Gembiranya rasa hati ku ini. Aku nggak nyangka, kalau Lela mau menerima ajakanku. Sungguh senangnya hatiku. Aku nggak sabar untuk menunggu hari esok. Ah.. Semoga saja besok acaranya dapat berjalan dengan lancar. Pasti besok si Lela terlihat begitu anggun dan cantik. Tidak menyangka, akhirnya aku benar-benar dapat berdansa dengan wanita cantik seperti dia. Serasa berdansa denga puteri raja.
Esok haripun telah tiba. Pagi-pagi buta, aku telah beranjak dari mimpi dan mulai bergegas untuk mempersiapkan diri. Aku memilih pakaian yang paling bagus untuk aku kenakan ke pesta nanti demi menarik hati si Lela wanita pujaan hati. Hem.. Tak sabar sungguh jiwa ini ingin berjumpa denganya. Jam 06.30 telah tiba, aku mengirimkan pesan singkat ke Lela utnuk mengabarkan aku akan berangkat menjemputnya.
Dalam perjalanan menujur rumah Lela, aku terbayang bagaimana nanti aku berdansa denganya.. Pasti sungguhlah sangat indah dan tak terlupakan. Jarak rumah Lela dengan rumahku lumayan jauh, dengan mengendarai vespa peninggalan ayah. Sesaat aku terhenti sejenak tepat didepan pintu gerbang rumah Lela, menghela nafas dalam-dalam. Uh… aku siap !
Akhirnya aku pun masuk ke dalam rumah. Ku ketok pintu perlahan.. tok .. tok .. tok .. Lalu munculah sesosok wanita anggun, dengan paras yang seksi dan ditambah lagi dengan berpakaian busana dansa yang membuat mataku tak henti-hentinya menatap keindahan tubuh si Lela.
Lamunanku terbangun saat Lela memanggil namaku “Eh don! Ayo buruan kita berangkat!” “Oh maaf-maaf.. Aku barusan terpesona akan kecantikanmu Lela. [ dag dig dug perasaanku ] “Halah.. biasa aja kali don! Ayo buruan! Nanti malah pestanya sudah dimulai lho!” “Oke-oke. Ayo kita berangkat!”
Akhirnya sampai juga di kampus. Aku perkir motorku dan bergegas menuju altar. Langkah demi langkah aku jalanin, semua pasang mata pada memandangku. Seakan-akan ada sesuatu yang aneh pada diriku. Ah… aku Cuma cuek aja. Nggak begitu aku pikirkan.. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa semua orang pada melihat aku begitu? Oh iya! Lela ! aku lupa. Aku sedang bersama Lela, pantas saja mereka semua pada memandang aku. Wajarlah, semenjak aku kuliah di kampus ini aku belum pernah menggandeng wanita secantik dia. Oh beruntungnya aku bias bersama si Lela.
Di altar telah ramai oleh mahasiswa yang berkumpul, dengan percaya diri aku gandeng Lela menuju altar. Akhirnya aku tiba juga di altar, dan disana juga ada Bobi bersama dengan kekasihnya. Langsung saja aku samperin mereka.
“Hai Bob!”
“Hai juga Don! Buset deh.. kau ke sini bareng si Lela? Ahahaaaa… Kalian sungguh serasi sekali. Seperti pasangan Suami istri saja.”
“Ah,.. bisa saja kamu ini Bob! Eh, udah lama kamu disini? Aku barusan saja sampai sama Lela. Gila! Pas aku masuk ke kampus ini, banyak banget orang-orang pada ngelihatin aku sama Lela.”
“Iya sudah agak lana sih.. ahahaa.. Jelas pada ngelihatin kalian lah. Tuh lihat saja, si Lela berdandan seperti Cinderella. Wajarlah.. tidak ada yang aneh.. kamu harusnya bersyukur bisa jalan sama wanita secantik dia.”
Kemudian Lela memotong pembicaraan kami.
“Eh apaan sih kamu bob! Aku cantik? Ah.. itu Cuma perasaan kamu saja! Palingan mereka heran melihat aku jalan sama Doni, soalnya kan si Doni udah lama nggak jalan sama cewek. Setiap hari jalanya sama kamu terus. Iya kan? Hayoo ngaku!”
“huss ! enak aja! Aku jalan sama Doni itupun karena terpaksa. Coba kalau nggak terpaksa, aku nggak bakalan mau sama dia! [ sambil menepuk pundaku ]
“ahahaa … sudah-sudah.. kalian malah bertengkar! Aku tidak peduli, mau mereka pada ngelihatin aku apa nggak. Yang pneting aku bisa ikut ke acara ini. Tidak seperti tahun kemarin. Aku bisanya Cuma dirumah sambil main video game. Sungguh membosankan!”
“Bener banget tuh Don! Kau mah pasti begitu. Setiap tahun pas ada acara seperti ini, pasti kau buat alasan. Yang ini kek, yang itu kek. Sampe-sampe aku bosan di tanyain terus sama keuta panitianya. Dan untunglah, hari ini kau bisa berangkat bersama si Lela. Kalau tidak, kuping aku ini bisa-bisa meledak.”
“hah ! dasar kamu Bob! Terlalu berlebihan! Ya sudah, aku sama Lela mau jalan-jalan dulu. Sambil menunggu pestanya dimulai.”
“iya sudah. Oke deh. Sukses ya Don..”

Akhirnya, aku bergegas meninggalkan Bobi dan kekasihnya itu. Pikiranku selanjutnya adalah “Kemana aku akan melangkah?” Jujur, aku sungguh-sungguh amat bingung! Iya sudah, aku mengambil keputusan untuk duduk dibangku luar altar, sembari memandang gemerlap bingtang. Cukup romantislah! Lumayan lama aku diam membisu. Ya mungkin aku terlalu gugup untuk memulai pembicaraan.
Oke, aku mengambil keputusan untuk memulainya : “ Oya Lela, gimana menurut kamu tentang acara ini? Kan kamu baru pertama kali aku ajak kesini. Pastinya seru dong.” “hem.. gimana ya? Iya serus sih. Rame juga kok, bahkan lebih rame dari pasar [ sambil tertawa terbahak-bahak ] ahahahaa..” “ah ,, kamu ini. Bisa saja.. memang sih begitu, rame, asyik, dan pokoknya seru. Tapi biasanya sih, tahun kemarin aku dirumah saja. Habisnya, nggak ada wanita yang mau aku ajak kencan dansa seperti saat ini. Iya kamu bisa dibilang baru pertama kali nemenin aku” “ah .. masa sih? Wah.. beruntung sekali ya kamu Don, bisa ditemenin sama wanita cantik seperti aku?” “ehheheee… iya bisa dibilang begitu. Tapi, kamu nggak cantik tuh [ dalam batinku bilang cantik. Cantik banget malahan. Asalkan kamu tau Lela, kau telah membuat jantungku berdebar begitu cepat ], mereka saja yang menilai kamu salah.” “Halah Don, nggak usah berbohong deh. Tuh lihat, kamu kalau berbohong pasti pipi kamu merah delima seperti itu.” “Ih apaan sih kamu Lela. Udah-udah ah..”
Teng … tong … teng … tong … teng .. tong …

Suara bell berbunyi, tanda acara akan dimulai sebentar lagi. Aku dan Lela segera untuk mempersiapkan diri ditengah altar yang telah dipadati oleh banyaknya mahasiswa. ......................................

# Bersambung

Dilanjutin besok lagi ya kawan ^_^
Kritik dan saranya selalu aku nanti :D

*Dhamar Supper Idiiot*

Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

Copyright (c) 2011 Asisteneptunus .