Banjarbaru, 14 Maret 2013
Fajar pagi senantiasa menyapanya
Pada riuh gemuruh
Pada teriknya peluh
Dan pijakanyapun siap menanti
Sinar matanya tak pernah bungkam
Selalu ada harapan
Pada segelintir roda bermesin
Ditengah-tengah hujaman mimpi
Tumpukan kardus usang
adalah instana terindahnya
Beratapkan cakrawala
Berselimut alam semesta
tak ada umpatan
tutur katanya senantiasa berharap
bahkan mengeluh tak ada pada dirinya
bersyukur pada setiap logam yang ada
Mimpinya begitu sederhana
tak lebih sebuah piring berisikan nasi
beberapa lauk kerap menghiasi
namun hanya pengganjal perut
dan sahabat setia pada waktu
roda kehidupan senatiasa ada
mungkin saja esok adalah hayal
dan sekarang titihan masa depan
bukan hanya itu
melainkan ketekunan hati nurani
biarkan saja caci maki menamparmu
anggap saja angin yang berlalu
karena angin senantiasa menyisakan kesegaran
dan itu adalah bekal dalam rintihanmu
sebagai selongsong peluru yang siap meluncur
Fajar pagi senantiasa menyapanya
Pada riuh gemuruh
Pada teriknya peluh
Dan pijakanyapun siap menanti
Sinar matanya tak pernah bungkam
Selalu ada harapan
Pada segelintir roda bermesin
Ditengah-tengah hujaman mimpi
Tumpukan kardus usang
adalah instana terindahnya
Beratapkan cakrawala
Berselimut alam semesta
tak ada umpatan
tutur katanya senantiasa berharap
bahkan mengeluh tak ada pada dirinya
bersyukur pada setiap logam yang ada
Mimpinya begitu sederhana
tak lebih sebuah piring berisikan nasi
beberapa lauk kerap menghiasi
namun hanya pengganjal perut
dan sahabat setia pada waktu
roda kehidupan senatiasa ada
mungkin saja esok adalah hayal
dan sekarang titihan masa depan
bukan hanya itu
melainkan ketekunan hati nurani
biarkan saja caci maki menamparmu
anggap saja angin yang berlalu
karena angin senantiasa menyisakan kesegaran
dan itu adalah bekal dalam rintihanmu
sebagai selongsong peluru yang siap meluncur



