/1/
Langkah kakiku bisu, terpasung di setiap jejak kenangan. Hanya
sekilas bayangan yang membuatku mematung sunyi disudut bola matamu. Menundukan
kepala dan melihat tetesan kesedihan yang membasahi setiap jejak langkah.
/2/
Entah sadar atau tidak, setiap guratan kebahagiaan yang
telah kau torehkan kini telah menjadi butir butir luka yang menikam ku secara
perlahan. Dahulu kita memang sering berjalan bersama, melewati setiap inci
mimpi yang kita rangkai dalam senyuman. Namun kini, kita saling memaki dan
saling membenci. Apakah cinta yang dulu kita hadirkan telah berubah menjadi
sosok iblis?
/3/
Deburan ombak dan dingin nya angin malam telah menghapus
sebagian jejak langkahku dihamparan pasir yang membentang, begitu juga telah
menghapus setiap kenangan dan senyuman yang pernah terproyeksi didasar pikiran.
Bukan air mata kebahagiaan, bukan juga air mata kesedihan, ini hanya sebuah
realita yang harus dihadapkan pada dua buah kutub asmara yang selamanya tak
akan pernah bersatu.
/4/




