Masih kuingat semua ceritamu padaku, ketika engkau duduk di samping dan berkata“walau apapun yang terjadi aku akan selalu sayang sama kamu” kata-kata itu selalu ku dengar di telinga ku ini. Aku tahu semuanya itu rencana TUHAN untuk kita berdua.
Di awal bulan September tahun 2009 menjadi awal pertemuan kita. Waktu itu, engkau terlihat sangat manis dengan pakaian busana bagai permaisuri raja. Masih teringat jelas, saat itu bertepatan dengan ulang tahun sahabatku, engkau turut hadir ke pesta ulang tahunya. Senyumanmu dan kedua bola matamu seakan-akan telah menghipnotisku dan membuat seluruh raga ini menjadi gemetar. Dalam hati aku selalu bertanya "siapa gerangan namamu, ingin sekali aku berbincang dan bercengkrama denganmu".
Di awal bulan September tahun 2009 menjadi awal pertemuan kita. Waktu itu, engkau terlihat sangat manis dengan pakaian busana bagai permaisuri raja. Masih teringat jelas, saat itu bertepatan dengan ulang tahun sahabatku, engkau turut hadir ke pesta ulang tahunya. Senyumanmu dan kedua bola matamu seakan-akan telah menghipnotisku dan membuat seluruh raga ini menjadi gemetar. Dalam hati aku selalu bertanya "siapa gerangan namamu, ingin sekali aku berbincang dan bercengkrama denganmu".
Keinginanku itu akhirnya terwujud, dikala aku duduk sendri di tepian sungai dalam dinginya malam kerabatku yang bernama Toni datang menepuk pundaku. Memecahkan kesunyian sore hari, " Eh don! sedang apa kau disini? kelihatanya kau sedang memikirkan sesuatu?" " ah, aku sedang ingin menyendiri saja. Hawanya males banget dirumah, lagi pula kan besok juga libur kuliah. Dari pada boring, mendingan aku disini sambil ngelihatin burung-burung pada bernyanyi." "ahahaaa... dasar kau saja yang tidak punya cewek. coba saja kau punya cewek, pasti nggak kayak gini. iya kan?""idih, tau aja kamu ini. Eh ngomong-ngomong itu siapa cewek dibelakangmu? sepertinya aku mengenal dia? tapi aku lupa dimana aku melihatnya" " oalah ..perkenalkan. ini sahabatku. Lela. Dia tadi aku ajak sewaktu aku ingin membeli buku di toko depan rumah kamu." Lalu Bobi pun mengenalkan Lela padaku. Terasa seperti di sengat listrik ribuan volt.
" Perkenalkan, nama saya Lela. Aku sahabatnya Bobi sejak kami masih duduk di bangku TK." [ Dengan tangan gemetar aku mengajukan tangan ] " Aku Doni, teman sebangku sekolahnya. Kami bisa dibilang kayak prangko. Kemana-mana selalu berdua. Sampe-sampe pernah digosipin disekolah kalau kami ini pasangan Homo. Hahahahhaha... ada-ada saja..."
Sejak perkenalan itu, akhirnya aku dan dia menjadi lebih akrab. Bahkan sering juga kami keluar bareng untuk sekedar makan dan berbincang-bincang. Sungguh betapa gembiranya hatiku ini, dapat berbicara dan menatap ke dua matanya secara langsung. Aku tidak pernah bisa membayang kan bagaimana jadinya, jika suatu saat nanti dia menjadi pendamping hidupku. Mungkin setiap hari aku akan selalu betah dirumah dan nggak main-main sama wanita lain.
Akhir pekan di musim panas, saat itu sedang ada acara perayaan kecil-kecilan di kampusku. Ya seperti agenda tahunan, dan itu sering kami rayakan setiap tahunya. Perayaan yang bertemakan dansa, semua peserta mahasiswa diwajibkan mengenakan pakaian dansa dan yang paling membuatku enggan mengikuti acara ini adalah setiap murid harus dan wajib mengajak seorang wanita untuk menjadi pasangan dansanya. Pasti, setiap acara ini datang aku selalu saja beralasan ini dan itu. Tahun lalu aku beralasan sedang ada acara keluarga dan untungnya saja mereka para pengurus acara percaya dengan mudahnya. Dan untuk tahun ini, aku nggak tau harus alasan apa lagi. Serasa benar-benar kehabisan kata.
Sejenak aku terdiam di sebuah kasur yang empuk dalam kamarku. Otak ini sudah aku putar-putar tujuh keliling masih saja tidak aku temukan alasan yang tepat. Hingga pada akhirnya, aku tidak sengaja membuka kotak masuk pada ponselku dan aku dapati nama LELA dalam kotak masuk pesanku itu. Yes ! akhirnya aku tau jawaban itu. Akhirnya aku menyusun rencana untuk mengajaknya ke pesta dansa yang akan dilaksanakan 2 hari mendatang. Oke. Rencana pertama, aku akan sms dia. Menanyakan 2 hari kedepanya ada acara atau tidak. Rencana yang kedua, aku ketemuan sama dia, ya sembari melepaskan rinduku ini [ jujur, aku sudah lama sekali tidak bertemu sama dia. ya mungkin karena terlalu padatnya acaraku. mulai dari rapat pengurus, sampai bimbingan belajar ]. Dan rencana terakhir, mengajak dia. Semoga saja rencanaku ini berhasil.
Akhirnya esok hari telah datang. Di pagi yang sungguh cerah dan udara yang segar merasuk ke dalam kamarku yang tidak terlalu besar. Terlihat sungguh indah, kupu-kupu berterbangan dengan iringan kicau burung pipit yang menambah suasana sejuk di pagi hari itu. Oke, aku bergegas mengambil ponselku dan di mulailah rencana pertama yaitu mengirimkan pesan singkat ke Lela.
" Selamat pagi Lela. Semoga saja pagimu ini indah seindah kicauan burung diluar sana. Kamu sudah bangun dari tidurmu kan? oh ya, langsung saja. Nanti sore bisakah kita bertemu ditempat biasa? ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Pesan singkat telah aku kirim. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering dan betapa terkejutnya aku, Ternyata itu balesan dari Lela. Segera saja aku buka pesanya " Selamat pagi juga. Nanti sore ya? Oke deh. Nanti sore aku kabarin lagi. Soalnya, kebetulan nanti sore aku hendak pergi ke toko buku."
Setelah aku baca pesan singkat itu, aku membalasnya " Oke deh kalau begitu. Nanti sore kabarin lagi saja ya. Aku tunggu..." Setelah sudah aku kirim, terasa jantung ini berdetak begitu cepat. Entah inikah yang dinamakan jatuh cinta ? begitu indah aku rasakan. Sengatan kecil ini seakan-akan telah menggelitik seluruh urat syaraf disekujur tubuhku ini. Oh, indahnya jatuh cinta...
Sore hari pun tiba. Tepat pukul 16.00, hapeku berdering. Ternyata pesan singkat dari Lela. " Hai Don. Sekarang juga aku tunggu ditempat biasa ya.." Wauw ! aku membaca pesan singkat itu seakan-akan seperti aku mendapatkan hadiah tak ternilai harganya. Segera saja aku mandi dan merapikan diri. Supaya terlihat cool di depan Lela.
Oke.. semua telah aku persiapkan, dan saatnya untuk menemui Lela. Dengan mengendarai Motor Vespaku, aku melaju dijalanan. Disepanjang jalan, aku terus merasakan getaran jantung yang berdetak sungguh kencang. Aku percepat laju vespaku, dan akhirnya telah sampai di sebuah warung kopi tempat biasa aku dan Lela berbincang-bincang.
Setelah aku turun dari vespa, segera aku memasuki toko itu. Aku menengok kekiri dan kekanan mencari dimana Lela. Dan terdengar suara lembut memanggil namaku "Hai Don. Sudah agak lama aku menunggumu disini" "heheheheee.. Maaf sekali, tadi jalan sempat macet. Ya maklumlah, rumahku dekat dengan jalan utama, jadi ya begitu. Oh iya, bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama tidak berjumpa. Maklumlah, aku terlalu sibuk dengan urusan ini dan itu. " "eheheheeee .. kabarku baik-baik saja. Iya-iya aku maklumin. Kan kamu dikampus menjadi mahasiswsa teladan, jadinya serba sibuk deh." " ah.. bisa saja kamu ini. Oh iya, tadi kamu ke toko buku membeli buku tentang apa? sepertinya sangat menarik deh?" "oh ini, kebetulan kan aku sedang mencari bahan untuk berita akhir pekan di kampus. Ya aku cuma sekedar mencari info-info saja. Siapa tau dapat." "Oh begitu. aahahaaa .... semoga sukses deh. Oya, kan besok itu dikampusku ada acara dansa. Ya acara kecil-kecilan. Nah, kan kalau dansa harus sama pasangan. Tau sendirilah, aku ini belum punya pacar, mau nggak kamu menemani aku berdansa? ya kalau itu tidak keberatan sih. [ Sebenarnya, aku mengatakan itu sambil dag dig dug. Uh... Sangat berat banget bibirku ini. Kayak gelagepan saja ] "Oh begitu ya? Hem.. Gimana ya? Kenapa kamu nggak ngajak cewek yang lain saja, kan masih ada tuh yang lebih cantik dari aku?" [ Derrrr ! seperti disambar petir ketika Lela bicara kayak gitu. Pasti ujung-ujungnya dia menolak ajakanku, hadeh... ] "Ya bukan seperti itu.. Aku mengajak kamu, soalnya cuma kamu yang pantas mendampingi aku dansa ( dengan jurus gombal )""Oh jadi begitu? Oke deh.. Aku mau.." [ Yes! akhirnya gombalanku manjur juga. Betapa seneng hatiku ini. Tak dapat aku lukiskan deh pokoknya. ] "Kalau begitu, besok aku jemput kamu jam 07.00 ya? harus sudah cantik dan wangi. Oke tuan putri?" "ahahaa .. bisa aja kamu ini. Iya-iya deh" "Oke deh. Sampai bertemu besok ya?"
Sesampainya dirumah, aku bergegas ke kamar. Hah ! Gembiranya rasa hati ku ini. Aku nggak nyangka, kalau Lela mau menerima ajakanku. Sungguh senangnya hatiku. Aku nggak sabar untuk menunggu hari esok. Ah.. Semoga saja besok acaranya dapat berjalan dengan lancar. Pasti besok si Lela terlihat begitu anggun dan cantik. Tidak menyangka, akhirnya aku benar-benar dapat berdansa dengan wanita cantik seperti dia. Serasa berdansa denga puteri raja.
Esok haripun telah tiba. Pagi-pagi buta, aku telah beranjak dari mimpi dan mulai bergegas untuk mempersiapkan diri. Aku memilih pakaian yang paling bagus untuk aku kenakan ke pesta nanti demi menarik hati si Lela wanita pujaan hati. Hem.. Tak sabar sungguh jiwa ini ingin berjumpa denganya. Jam 06.30 telah tiba, aku mengirimkan pesan singkat ke Lela utnuk mengabarkan aku akan berangkat menjemputnya.
Dalam perjalanan menujur rumah Lela, aku terbayang bagaimana nanti aku berdansa denganya.. Pasti sungguhlah sangat indah dan tak terlupakan. Jarak rumah Lela dengan rumahku lumayan jauh, dengan mengendarai vespa peninggalan ayah. Sesaat aku terhenti sejenak tepat didepan pintu gerbang rumah Lela, menghela nafas dalam-dalam. Uh… aku siap !
Akhirnya aku pun masuk ke dalam rumah. Ku ketok pintu perlahan.. tok .. tok .. tok .. Lalu munculah sesosok wanita anggun, dengan paras yang seksi dan ditambah lagi dengan berpakaian busana dansa yang membuat mataku tak henti-hentinya menatap keindahan tubuh si Lela.
Lamunanku terbangun saat Lela memanggil namaku “Eh don! Ayo buruan kita berangkat!” “Oh maaf-maaf.. Aku barusan terpesona akan kecantikanmu Lela. [ dag dig dug perasaanku ] “Halah.. biasa aja kali don! Ayo buruan! Nanti malah pestanya sudah dimulai lho!” “Oke-oke. Ayo kita berangkat!”
Akhirnya sampai juga di kampus. Aku perkir motorku dan bergegas menuju altar. Langkah demi langkah aku jalanin, semua pasang mata pada memandangku. Seakan-akan ada sesuatu yang aneh pada diriku. Ah… aku Cuma cuek aja. Nggak begitu aku pikirkan.. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa semua orang pada melihat aku begitu? Oh iya! Lela ! aku lupa. Aku sedang bersama Lela, pantas saja mereka semua pada memandang aku. Wajarlah, semenjak aku kuliah di kampus ini aku belum pernah menggandeng wanita secantik dia. Oh beruntungnya aku bias bersama si Lela.
Di altar telah ramai oleh mahasiswa yang berkumpul, dengan percaya diri aku gandeng Lela menuju altar. Akhirnya aku tiba juga di altar, dan disana juga ada Bobi bersama dengan kekasihnya. Langsung saja aku samperin mereka.
“Hai Bob!”
“Hai juga Don! Buset deh.. kau ke sini bareng si Lela? Ahahaaaa… Kalian sungguh serasi sekali. Seperti pasangan Suami istri saja.”
“Ah,.. bisa saja kamu ini Bob! Eh, udah lama kamu disini? Aku barusan saja sampai sama Lela. Gila! Pas aku masuk ke kampus ini, banyak banget orang-orang pada ngelihatin aku sama Lela.”
“Iya sudah agak lana sih.. ahahaa.. Jelas pada ngelihatin kalian lah. Tuh lihat saja, si Lela berdandan seperti Cinderella. Wajarlah.. tidak ada yang aneh.. kamu harusnya bersyukur bisa jalan sama wanita secantik dia.”
Kemudian Lela memotong pembicaraan kami.
“Eh apaan sih kamu bob! Aku cantik? Ah.. itu Cuma perasaan kamu saja! Palingan mereka heran melihat aku jalan sama Doni, soalnya kan si Doni udah lama nggak jalan sama cewek. Setiap hari jalanya sama kamu terus. Iya kan? Hayoo ngaku!”
“huss ! enak aja! Aku jalan sama Doni itupun karena terpaksa. Coba kalau nggak terpaksa, aku nggak bakalan mau sama dia! [ sambil menepuk pundaku ]
“ahahaa … sudah-sudah.. kalian malah bertengkar! Aku tidak peduli, mau mereka pada ngelihatin aku apa nggak. Yang pneting aku bisa ikut ke acara ini. Tidak seperti tahun kemarin. Aku bisanya Cuma dirumah sambil main video game. Sungguh membosankan!”
“Bener banget tuh Don! Kau mah pasti begitu. Setiap tahun pas ada acara seperti ini, pasti kau buat alasan. Yang ini kek, yang itu kek. Sampe-sampe aku bosan di tanyain terus sama keuta panitianya. Dan untunglah, hari ini kau bisa berangkat bersama si Lela. Kalau tidak, kuping aku ini bisa-bisa meledak.”
“hah ! dasar kamu Bob! Terlalu berlebihan! Ya sudah, aku sama Lela mau jalan-jalan dulu. Sambil menunggu pestanya dimulai.”
“iya sudah. Oke deh. Sukses ya Don..”
Akhirnya, aku bergegas meninggalkan Bobi dan kekasihnya itu. Pikiranku selanjutnya adalah “Kemana aku akan melangkah?” Jujur, aku sungguh-sungguh amat bingung! Iya sudah, aku mengambil keputusan untuk duduk dibangku luar altar, sembari memandang gemerlap bingtang. Cukup romantislah! Lumayan lama aku diam membisu. Ya mungkin aku terlalu gugup untuk memulai pembicaraan.
Oke, aku mengambil keputusan untuk memulainya : “ Oya Lela, gimana menurut kamu tentang acara ini? Kan kamu baru pertama kali aku ajak kesini. Pastinya seru dong.” “hem.. gimana ya? Iya serus sih. Rame juga kok, bahkan lebih rame dari pasar [ sambil tertawa terbahak-bahak ] ahahahaa..” “ah ,, kamu ini. Bisa saja.. memang sih begitu, rame, asyik, dan pokoknya seru. Tapi biasanya sih, tahun kemarin aku dirumah saja. Habisnya, nggak ada wanita yang mau aku ajak kencan dansa seperti saat ini. Iya kamu bisa dibilang baru pertama kali nemenin aku” “ah .. masa sih? Wah.. beruntung sekali ya kamu Don, bisa ditemenin sama wanita cantik seperti aku?” “ehheheee… iya bisa dibilang begitu. Tapi, kamu nggak cantik tuh [ dalam batinku bilang cantik. Cantik banget malahan. Asalkan kamu tau Lela, kau telah membuat jantungku berdebar begitu cepat ], mereka saja yang menilai kamu salah.” “Halah Don, nggak usah berbohong deh. Tuh lihat, kamu kalau berbohong pasti pipi kamu merah delima seperti itu.” “Ih apaan sih kamu Lela. Udah-udah ah..”
Teng … tong … teng … tong … teng .. tong …
Suara bell berbunyi, tanda acara akan dimulai sebentar lagi. Aku dan Lela segera untuk mempersiapkan diri ditengah altar yang telah dipadati oleh banyaknya mahasiswa.
Oh.. Betapa indahnya malam ini. Berdansa dengan dia wanita yang telah lama aku jatuh cinta padanya. Lantunan musik mengiringi setiap langkah gerakan dansa kami, lembut dan syahdu. Mengalir menelusuri setiap lorong jiwa ini, ingin rasanya tetap merasakan indah lembut tanganmu. Tatapan kedua bola matamu, seakan-akan berbicara padaku bahwa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Gejolak cinta yang menyegarkan ruas-ruas tulang penyanggah tubuhku ini.
Cukup lama kami berdansa dan terlelap dalam sauna, hingga waktu menunjukan pukul 01.00 WIB dini hari. Pertanda pesta telah usai, dan para mahasiswa harus segera melanjutkan ke sesi acara selanjutnya. Dengan perlahan, aku melepaskan genggaman lembut tanganya. Ditengah-tengah itu, ia berkata padaku “Don, habis ini kita balik aja ya.. Sudah larut malam nih. Nanti aku takutnya bangun kesiangan.”
“Oh ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang.”
Akhirnya kami bergegas meninggalkan altar dan berjalan menunju pintu keluar. Ditengah perjalanan, aku sungguh merasakan betapa bahagianya aku ini. Seakan-akan semua beban hidup yang aku rasakan hilang sudah setelah aku berdansa denganya. Sungguh.. Wanita ciptaan Tuhan paling indah.
Sesampainya dirumah, aku berpamitan dengan Lela. [ Berbisik ditelinganya ] “Terima kasih untuk mala ini” Lela hanya diam bagaikan patung, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Aku bergegas meninggalkanya dan segera kembali ke rumah.
Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Lela semakin dekat. Hingga pada suatu hari aku berencana untuk menyatakan cinta padanya. Perasaan yang telah sekian lama aku pendam. Ya.. Aku masih ingat betul, tanggal 14 Februari bertepatan dengan hari valentine, hari kasih sayang.
Minggu depan, aku harus berhasil mengungkapkan perasaanku ini, dan mulai sekarang aku mempersiapkan segala macamnya. Jujur, aku baru pertama kali ini menyatakan cinta pada seorang wanita dengan di iringi perasaan yang campur aduk. Sungguh, maha dahsyat sekali auranya sehingga membuat perasaanku seperti ini.
# 1 Minggu kemudian
Tanggal 14 Februari 2010 pukul 06.00 WIB, di pagi hari yang begitu cerah. Aku telah mempersiapkan semuanya. Rencana ini harus berhasil! Aku berencana mengungkapkan perasaanku itu saat nanti setelah aku pulang kuliah. Kebetulan sekali, ia hari ini tidak ada jadwal kegiatan. Ditaman.. Ya ditaman, aku akan menyatakan cintaku padanya. Cinta yang telah membuatku benar-benar gila. Mungkin memang benar apa yang dikatakan orang pada umumnya bahwa cinta itu bisa membuat kita gila.
Untung saja, jadwal kuliahku hari ini tidak begitu padat dan bisa pulang lebih awal. Di kampus, pada saat jam istirahat aku menyempatkan diri untuk menelpon Lela. Hanya untuk memastikan bahwa nanti ia bisa pergi. “Hallo Lela, lagi ngapain kamu?
“Oh.. Ini aku sedang bersantai saja. Ada apa Don? Tumben kamu telpon aku siang-siang bolong kayak gini, kan biasanya kamu molor?”
“Hahahaa.. Kurang ajar.. Menghina sekali kamu! Jadi gini lho, nanti habis pulang dari kuliah aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Habisnya dikampus, aku benar-benar boring. Kamu mau nggak?”
“Owalah.. Hem, oke deh. Nanti sms aku aja”
“Hahahaha.. Siap tuan putrid..”
Yes! Lela bisa.. Rencanaku pasti berhasil dan semoga saja berhasil!
Dari kampus langsung aku menuju rumahnya. Teng tong teng tong.
Suara bell rumah Lela yang aku tekan.
Beberapa menit kemudian, munculah Lela dari belakang pintu.
“Doni. Kok kamu udah nongol didepan pintu? Kan aku suruh kamu ngabarin aku dulu sebelum kamu kesini?”
“Ahaahahaha.. Maaf-maaf. Habisnya males banget sih buat nelfon kamu. Lagi pula kan jarak kampusku sama rumah kamu dekat. Jadi buat apa aku ngabarin kamu dulu.”
“Ya sudah kalau begitu, tunggu sebentar ya. Aku mau ganti baju dulu.”
“Iya-iya. Agak cepetan ya Lel.”
Sumpah! Perasaan ku saat ini campur aduk. Berdetak jantungku dengan kencang, seakan-akan ingin lepas dari tempatnya. Nafasku sudah tidak karuan, seperti habis dikejar anjing tetangga. Lumayan lama aku menunggu Lela berganti pakaian. Beberapa menit kemudian dia lalu mengajaku untuk bergegas pergi dari rumah.
“Oya Don, kalau boleh tau, kita mau pergi kemana ya?”
“Aku mau mengajakmu ke sebuah taman. Iya cuma sekedar menikmati keindahan sore hari.”
“Oke deh kalau begitu. Ayo kita berangkat Don”
Aku dan Lela akhirnya berangkat dengan menggunakan kendaraan vespa tua peninggalan mbah ku. Ya walaupun sudah tua, tapi masih bisa melaju dengan kencang. Di sepenjang jalan, lamunanku terus tertuju pada bagaimana nanti aku menembak si Lela? Padahal rencana sudah aku susun sejak seminggu yang lalu, tapi kenapa saat sudah tepat berada didepan mata rencana itu seolah-olah menghilang? Wah kacau kalau kayak begini…
Vespapun mengantarkan kami ke sebuah taman yang indah di tempat yang jauh dari keramaian kota. Memang, aku sengaja memilih tempat ini soalnya aku paling tidak bisa sama yang namanya keramaian. Apalagi dipenuhi dengan asap kendaraan bermotor. Baru satu sampai 5 menit saja, nafasku udah tersengal-sengal.
Di taman yang sunyi dengan udara yang sejuk berselimut kan awan tebal nan cerah, aku dan Lela duduk berdua menghadap kolam ikan. Iya.. Ikan inilah yang akan menjadi saksi bisu disaat aku menyatakan cinta pada Lela wanita berparas anggun nan molek. Untuk pertama kali nya, aku menyatakan cinta di tempat seperti ini. Sungguh, suasana yang sangat mendukung.
Perlahan tapi pasti, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya kembali, sebagai penghilang rasa grogi yang melanda sekujur tubuhku ini. Deg .. deg .. deg … Suara jantungku yang berdet ak dengan kencangnya.. Keringat dingin sudah mulai berkeluaran membasahi sekujur tangan. Seakan-akan terasa sangat beku lidah ini untuk memulai pembicaraan. Akhirnya kondisiku ini diketahui oleh Lila.
“Doni, kamu kenapa? Kok kamu sampe keringet dingin begitu? Kamu sakit ya? Lebih baik kita pulang aja yuk.”
[ Dengan berbicara terbata-bata ] “a a a a a ku tidak kenapa-kenapa kok Lel. Ya mungkin karena aku kecapekan aja.”
“Ah.. yakin kamu tidak kenapa-kenapa? Ya syukurlah deh kalau begitu. Oh ya, tumben kamu mengajaku ke tempat seperti ini? Ada apa gerangan?”
[ lalu aku berpikir untuk mencari alasan yang tepat ] “hem.. aku mengajakmu ke sini karena ya hanya sekedar ingin berbicara saja denganmu. Soalnya aku bosan sih, dengan suasana kota yang begitu ramai dengan kendaraan. Tidak masalah kan?”
“Oalah. Iya, gak masalah kok. Lagipula aku juga sama. Bosen sih ngbrol di suasana yang ramai ditambah lagi dengan menghirup asap yang bias-bisa buat aku sesak nafas. Ahahaahha..”
“Nah, itu kamu tau. Ternyata kamu pintar ya?”
“Ah.. bisa aja kamu ini. Oh iya, ngomong-ngomong udara disini sejuk juga ya Don? Coba saja kalau rumah aku disekitar sini, pasti setiap pagi aku merasa segar sekali.”
“Benar juga ya apa katamu Lel. Sejuk dan ditambah lagi tempatnya romantis. Andaikan saja, aku punya pacar, pastilah aku akan mengajaknya ke sini setiap hari.”
“Ah.. kamu ini.. didalam pikiranmu cuma ada cewek, cewek, dan cewek. Nggak ada selain itu ya Don? Sekali-kali mikirin aku kek kenapa? [ sambil senyam senyum ]
“Hahahahaha.. Lela.. Lela.. kamu ini ada-ada aja.” [ Padahal asalkan kamu tau Lel, aku hampir setiap detik mikirin kamu. Andai saja kamu tau… ]
# Seketika itu juga suasana menjadi sangat sepi. Diantara aku dan Lela tidak terdengar suara obrolan yang memecah suasana hening ini. Aku berpikir, apakah ini saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku ini ? Sepertinya begitu. Tanpa berpikir terlalu lama, aku memulai aksiku ini. Semoga berhasil..
“ Lela.. Dengerin deh, aku mau ngomong sesuatu. Ini serius dan aku sedang tidak becanda”
“Emangnya kamu mau ngomong apaan sih Don? Kok tumben banget kamu mau ngomong serius?”
[Mengambil nafas dalam-dalam] “Lel. Aku mau ngomong, kalau aku sayang sama kamu. Sejujurnya perasaan ini telah ku simpan begitu lama. Sejak awal kita bertemu, aku sudah mulai tertarik padamu. Ya mungkin saja, kamu berpikir bahwa aku ini sedang bercanda. Tapi ini benar-benar aku rasakan Lel.”
Lela hanya bisa tertunduk diam, tak ada sedikitpun suara yang ia keluarkan. Entah apa yang ada dalam pikiranya saat itu. Apakah mungkin, begitu cepat aku mengungkapkan perasaanku ini? Tapi sepertinya tidak.
“Doni. Aku nggak tau harus jawab gimana, jujur. Aku saat ini bingung sekali, kenapa kamu bisa begitu menyayangiku? Kenapa? Bahkan, kamu nggak tau gimana aku yang sebenarnya Doni! Kamu nggak tau! Kalau aku kasih tau ke kamu, pasti kamu tidak percaya. Pasti kamu akan menyesal telah mencintai sosok Lela yang selama ini kamu bangga-banggakan! [ Tetesan air mata Lela tertumpah membasahi pipi ]
“Lela! Aku sayang kamu! Aku nggak peduli dengan situasi ataupun apa yang terjadi kepadamu! Aku tetap mencintai kamu Lela!”
“Oke, kalau kamu memang benar-benar mencintaiku tulus, Lihat ini! Lihat! [ Kemudian Lela melepas rambut yang ia kenakan. Lela selama ini menyembunyikan penyakit yang ia derita. Penyakit yang nantinya membawa Lela pada kematian. ] Aku sebenarnya mengidap penyakit gangguan otak stadium 4. Dan penyakit ini sudah tidak bisa disembuhkan.! Bahkan sebentar lagi, aku bisa saja menghadap pada kematian.! Percuma saja kamu mencintaiku, dengan kondisiku seperti ini.! Percuma Don! Lebih baik kamu tinggalkan aku sekarang !”
“ Lela! Aku nggak mungkin dan tak akan mungkin meninggalkanmu sendiri disini. Karena aku benar-benar mencintaimu tulus. Aku menerimamu apa adanya bahkan dengan kondisimu seperti ini.”
[ kemudian, aku memeluknya. Lela menangis di pundaku sembari ia mengatakan bahwa ia juga sayang padaku. Tenang dan damai. Aku menerima kondisi Lela dengan ikhlas. Mungkin saja ini memang sudah takdirnya. Takdir yang harus aku lalui bersama Lela. ]
Sejak itulah, aku dan Lela resmi berpacaran. Sungguh bagaikan mimpi yang selama ini aku inginkan. Hari-hari dan setiap saat selalu bersamanya.
# 2 Tahun kemudian.
Pagi yang cerah terpaksa membangunkanku dari tidur. Setelah semalam suntuk menemani Lela merayakan ulang tahun temanya. Uh.. Sungguh terasa remuk sekali badan ini, ingin rasanya melanjutkan mimpi hingga sore hari. Jam telah menunjukan pukul 08.30
“Oh iya.. Pagi ini kan aku ada janji untuk mengantar Lela pergi ke kampus! Haduh.. sudah telat ini.” Lalu aku bergegas untuk mandi dan bersiap-siap. Dengan cepat aku mengambil kunci motor dan pergi menuju ke rumah Lela. Diperjalanan, Lela terus saja mencoba menghubungiku, tapi mau gimana lagi.
Akhirnya, tiba juga dirumah Lela. Segera aku ketok pintu rumahnya.
10 menit kemudian, munculah Lela dari balik pintu.
“ Sayang. Udah jam berapa ini? Kamu tau kan, aku kuliah masuk jam berapa? Kenapa telat? Pasti deh kebiasaan kalau udah tidur, lupa bangun.” [ dengan raut wajah yang merengut ]
“Iya iya sayang maaf. Aku bangun kesiangan. Habisnya, gara-gara semalem, aku jadi bangun kesiangan gini. Capek sayang. Kan tau sendiri kan, sore harinya aku baru pulang dari kuliah. Malamnya udah nemenin kamu. Maaf ya sayang…”
“Ya udah.. Ya udah.. kalau begitu, temenin aku belanja aja. Makanan dirumah udah pada habis, hari ini aku nggak berangkat kuliah dulu. Ayo buruan!”
“Iya sayang…”
Dengan terpaksa, hari ini aku nemenin Lela berbelanja. Padahal, ada rencana sehabis nganterin Lela aku langsung melanjutkan mimpi kembali. Huh! Tidak sesuai dengan rencana!
Tiba juga di Super Market yang lumayan jauh dari rumah Lela. Langsung saja ku pakir kan motor ini di ujung Super Market.
Masuk ke Super Market bagaikan sedang menemani Istri sendiri. Berbelanja ini dan itu. Berjalan mengelilingi deretan makanan sampai ke tempat kebutuhan pribadi wanita. Lumayan lama kami berdua memilih barang-barang yang akan dibutuhkan. Di tengah keramaian pengunjung swalayan, tiba-tiba Lela jatuh pingsan. Segelintir pengunjung datang mengerumuni kami berdua. Suasana berubah menjadi tegang dan dipenuhi dengan kepanikan.
Tanpa berpikir lama lagi, langsung saja aku berinisiatif mengantarkan Lela ke rumah sakit.
Pikiranku sudah tidak karuan lagi, ah.. semoga saja Lela baik-baik saja..
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung memanggil seorang dokter.
“Dok .. tolong pacar saya. Pacar saya tadi sewaktu kami sedang berbelanja, tiba-tiba ia pingsan tak sadarkan diri.”
“Memang ada apa sebelumnya dengan dia anak muda?”
“aku kurang paham dok.. Tolong dia dok..” [ dengan wajah memelas aku memohon agar dokter mengambil tindakan untuk menolong pacarku ini ]
“oke.. tenangkan dirimu sekarang. Tunggu saja diruang tunggu disebalah sana”
Akhirnya Lela dibawa ke kamar inap. Mondar-mandir aku berjalan.. Cemas.. khawatir.. dan benar-benar pikiranku sudah tidak karuan…
Berharap Lela tidak terjadi apa-apa..
# 1 jam kemudian..
Dokter akhirnya keluar dari kamar. Beliau langsung mengajaku untuk berbicara. Sepertinya cukup serius dengan kondisi Lela, Nampak jelas dari raut wajahnya.
“anak muda, kalau boleh saya tahu, siapa nama anda?”
“perkenalkan, nama saya Doni dok.. bagaimana dengan kondisi pacar saya dok? Apakah baik-baik saja?”
“Begini.. kondisi Lela saat ini cukup memprihatinkan. Ada pembengkakan pada otaknya. Dan kemungkinan besar, Lela harus dirawat inap di sini. Bahkan, untuk saat ini, Lela masih tidak sadarkan diri,..”
“Terus dok, apakah Lela bisa sembuh? Aku benar-benar mencintainya dok.. tolong sembuhkan Lela dok.. Aku mohon…”
“Saya usahakan..”
Semenjak itulah, Lela terpaksa dirawat di Rumah sakit selama berbulan-bulan.. Mungkin, karena penyakit yang ia derita sudah mencapai puncaknya. Dan aku benar-benar merasa sedih sekali. Aku berharap, Lela agar cepat sembuh. Aku nggak mau kehilanganya.. aku nggak mau…
Selama dirumah sakit, aku dan kawan-kawanlah yang menungguinya. Setelah pulang kuliah, aku langsung menjenguk Lela. Memastikan kondisinya. Hari demi hari aku jalani. Dan kondisi Lela semakin saja parah. Bahkan untuk berbicarapun, Lela sudah tidak sanggup lagi. Terpaksa, Lela harus menjalani Kemoterapi untuk mencegah bertambah parahnya penyakit yang ia derita.
Kemoterapi itu benar-benar membuat Lela sungguh tersiksa. Sedikit demi sedikit, rambut Lela rontok, dan sekarang ia menjadi botak. Dahulu, Lela Nampak cantik dan anggun. Kini, ia berubah menjadi kurus, dan tak berdaya. Itu semua tidak mengurangi rasa sayang dan cintaku terhadapnya..
Hingga pada suatu sore, di bulan September 2010 aku mengajaknya jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Sembari mendorong kursi roda yang ia pakai, aku terus mengajaknya bicara. Perlahan tapi pasti, dengan terbata-bata ia merespon apa yang aku bicarakan.
Aku berhenti di pinggiran kolam, dan disitulah kami beristirahat sebentar sambil menikmati kicauan burung yang mencoba menenangkan perasaan kami berdua. Kemudian dengan perlahan Lela berbicara padaku :
“walau apapun yang terjadi aku akan selalu sayang sama kamu”
Kata-kata itu begitu lembut terdengar di telingaku. Tak pernah ku dengar suara Lela seperti ini, yang terdengar begitu indah dan menenangkan jiwa. Aku hanya bisa terdiam dan meneteslah air mataku. Dalam hatiku berkata “Terima kasih Lela, terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang telah kau berikan padaku. Aku sayang kepadamu Lela. Sampai kapanpun, rasa sayangku ini akan tetap ada untukmu. Walaupun aku telah tau, bahwa kamu tak mungkin lagi dapat terus bersama denganku. Tapi, engkau akan terus ada dalam hatiku, selamanya..”
Ku kecup dahi Lela dengan lembut, dan berbisik kepadanya “ I love you anyway “
Ku lihat kedua mata Lela meneteskan air mata.. ia genggam tangan ini dengan erat, seolah-olah tak ingin aku pergi dari sampingnya.
Sore pun telah usai. Dan saatnya aku mengantarkan Lela kembali ke kamarnya. Perlahan aku bantu dia untuk merebahkan badanya yang begitu lemah pada sebuah kasur yang empuk dengan selang infuse yang tergulai pada sisi tanganya, serta alat bantu nafas pada hidungnya.
Untunglah, sesaat kemudian teman Lela datang untuk menjenguknya. Hingga aku bisa pulang ke rumah untuk mempersiapkan kuliah esok hari. Tapi aku mempunyai rencana untuk menjenguknya nanti malam.
Di kamar pribadiku, aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti ketika Lela benar-benar meninggalkanku? Aku nggak ingin ini semua terjadi.
Beberapa menit kemudian aku pun tanpa sadar terlelap dalam mimpi, rencanaku yang semula akan menjenguk Lela batal sudah..
Dalam mimpiku, aku memimpikan Lela. Ia datang kepadaku dengan berpakaian gaun putih. Nampak anggun dia saat itu, dan dia menghampiriku. Ia berkata dengan lembut padaku “ Don, terima kasih atas semua kasih sayang serta cintamu selama ini. Aku terpaksa harus pergi meninggalkanmu. Aku sayang padamu Don..”
Segeralah aku terjaga dalam tidur. Dan kudapati itu hanya sebuah mimpi. Tapi, seketika itu juga perasaanku menjadi tidak karuan. Aku dapati handphoneku berbunyi. Salah satu teman Lela yang menjagai dia dirumah sakit menelfonku.
“hallo Don. Ini aku bunga. Kamu sedang ada dimana? Bisa ke rumah sakit sekarang?”
“nih aku sedang dirumah. Emang kenapa? Ada apa dengan Lela? Jangan buat aku tegang deh. Tunggu sebentar, aku sebentar lagi ke sana.”
“iya Don. Aku tunggu”
Tanpa piker panjang, aku ganti pakaian lalu bergegas ke rumah sakit. Disepanjang jalan, aku terus mengira-ngira apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Lela. Ah.. semoga saja Lela baik-baik saja.
Sesampainya dirumah sakit, aku langsung menuju ke kamar dimana Lela sedang di rawat.
Ketika aku masuk, suasana didalam kamar begitu tegang.. banyak dari kawan Lela sedang menangis. Dan aku mencoba untuk bertanya kepada salah satu dari antara mereka.
“ada apa dengan Lela? Tolong kasih tau aku! Lela baik-baik saja kan?”
Kemudian Bunga menghampiriku. Ia berkata “Don.. Lela telah menghembuskan nafas terakhirnya. Lela telah meninggal.” [ sambil meneteskan air mata ]
Seketika itu juga, aku tak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang mewakili berjuta perasaan kesedihan yang aku rasakan. Aku mendekati tubuh Lela, aku merasakan dingin sekali tubuhnya. Kaku.. dan tak satupun kata yang keluar. Aku menatap wajahnya yang begitu sayu.. seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakana. Ku genggam kedua tanganya, ku kecup dan ku genggam erat. Berharap, ada keajaiban yang datang membangunkanya kembali. Tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin Lela dapat hidup kembali. Setidaknya, tadi Lela telah datang dalam mimpiku. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, ingin sekali aku memeluknya untuk terakhir kalinya. Aku sungguh merasa kehilanganmu sayang …
Pagi harinya ..
Tibalah saatnya untuk Lela beristirahat di tempat terakhirnya … semua kenangan yang telah aku rangkai bersamanya tak akan pernah sedetikpun akan aku lupakan. Aku masih ingat, perjuangan hidupnya, senyumnya, dan semangatnya yang membuatku merasa begitu sangat menyayanginya. Tak pernah sedikitpun aku telah menyesal mencintaimu. Aku bahkan bersyukur, bisa mencintai dan menyayangi wanita sepertimu. Wanita yang telah memberikan kebahagiaan untuku hingga ujung usiamu.
Selamat jalan sayang …
Selamat jalan …
Kasih sayang yang ada didalam hatiku ini ,
Akan terus bersamamu dan terus ada dalam hidupku ..
Sampai kapanpun ..
29 September 2010



