" KEHIDUPAN SEORANG PEMULUNG"

"ketika kehidupan merajang seluruh harapan..
tak lagi ada sisa kebahagiaan, yang ada hanya sebuah tangisan dan sayatan luka di hati serta jiwa.."


Soni.. iya itulah nama dari seorang anak muda yang hidup ditengah-tengah gundukan sampah. Tinggal pada sebuah rumah kardus yang hanya berukuran sekitar 50 x 30 meter. Ia hidup dengan kedua kakak dan adiknya. Orang tuanya telah lama meninggalkan mereka saat mereka masih kecil. Mungkin karena keterbatasan biaya dan keadaan yang membuat orang tuanya harus membuang mereka di pinggir jalan.. Keseharian Soni adalah bekerja memungut sampah disekitar komplek perumahan yang terbilang elit dan mewah.. Dengan bekerja seperti itu, ia mampu untuk terus bertahan hidup..

Mulai dari subuh, ia telah beranjak dari tempat tidurnya ( beralaskan kardus dan berselimutkan koran ). Mempersiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa untuk bekerja.. Tak peduli dengan udara dingin yang menyengat sekujur tulang rusuknya serta perut yang melilit akibat menahan lapar. Ia berjalan menelusuri rumah-rumah yang sekiranya ada barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi.. Bahkan tak jarang, ia harus melewati rintangan dikejar satpam yang menjaga komplek perumahan itu. Tetapi masih saja bara api semangatnya tak kunjung padam..




Hingga siang hari, ia sempatkan diri untuk beristirahat sejenak disebuah tempat dipinggir jalan. Sambil melihat ramainya kota yang seolah tak peduli dengan keberadaanya.. Kadang juga disela-sela istirahatnya itu, ia berpikir "mengapa sungguh kejam hidup ini. Makan dan tidurpun aku harus berusaha sendiri, tidak seperti orang lain yang semuanya sudah disediakan oleh orang tuanya yang selalu mencintai dan menyayanginya.. Hidup serba kecukupan, mau makan apa aja tinggal minta, mau hiburan apa aja sudah tersedia. ohh, sepertinya hidup ini sungguh menjauhi saya serta saudara saya"

Memang benar apa yang dia pikirkan.. Coba bayangkan saja.. Untuk sesuap nasi, Soni harus rela dan berjuang keras mencari sampah serta barang² yang sudah tidak terpakai lagi, yang nantinya akan di timbang dan diberi upah per kilonya Rp 500. Itu semua kurang dari cukup untuk makan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi, sungguh luar biasa semangat hidupnya. Berjuang dan berusaha hidup ditengah-tengah waktu yang mencoba untuk menyingkirkan ia beserta saudaranya..

Setelah cukup lama ia beristirahat, akhirnya ia melanjutkan perjalananya..
Hingga sampai disebuah rumah yang amat megah.
Disitu, ia tidak sengaja mendengar pertengkaran antara suami dan istri pemilik rumah. Ia mendengar bahwa pertengkaran itu dipicu oleh harta dan pekerjaan. Lama sekali ia mendengar, hingga ia melihat sang pemilik rumah pergi dan bergegas meninggalkan rumah beserta istrinya.. Akhirnya Soni memutuskan untuk memberanikan diri masuk ke dalam rumah itu.
Didalam rumah, ia mendapati seorang ibu separuh baya sedang menangis. Dengan keadaan seisi rumah berantakan akibat pertengkaran yang terjadi.. Dengan perlahan, Soni berusaha mendekati ibu itu.

Lalu ia bertanya "Ibu,, ibu kenapa menangis" ( dengan ekspresi muka lugu)

Ibu itu menjawab: "Ibu habis bertengkar dengan suami ibu.. Suami ibu sungguh egois. Dia hanya mementingkan pekerjaan pekerjaan dan pekerjaan.. Ibu dan anak ibu tidak ia perdulikan.. Sampai-sampai anak ibu sendiri yang paling besar kabur dari rumah akibat tidak tahan dengan situasi dan kondisi dirumah. Ibu sebenarnya sudah lelah sekali menghadapi suami ibu sendiri.. Coba adek bayangkan. Suami ibu berangkat dari kantor pagi-pagi sekali sebelum anak-anak ibu bangun dari tidurnya dan pulang larut malam setelah anak-anak ibu semuanya tidur.. Tak ada waktu sedetikpun untuk kami.. Bahkan, ibu pernah mencoba untuk cerai dengan suami ibu, akibat ibu sudah tidak tahan dengan semua ini.. Memang, semua kehidupan ibu beserta anak ibu semuanya tercukupi. Tapi tidak sedikitpun kami merasakan kebahagiaan. Ibu ingin sekali merasakan sebuah kebahagiaan.. Berkumpul bersama anak dan suami ibu, tertawa dan gembira bersama. Tapi apa mungkin?"

Kemudian Soni menjawab: " Ibu.. saya tahu apa yang ibu rasakan.. dan sungguh saya sangat memahami dengan situasi dan kondisi keluarga ibu. Memang, kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan harta maupun materi yang ada.. Melainkan kebahagiaan didapat dari sebuah senyuman yang terjalin diantara anggota keluarga ibu. Ya sudahlah bu.. Ibu harus kuat dan ibu harus bisa menghadapi situasi ini. Mungkin, Tuhan sedang menguji seberapa kuat ibu dalam menjalani kehidupan dengan semuanya serba tercukupi.. Saya yakin, suatu saat nanti ibu pasti dapat merasakan suatu kebahagiaan yang ibu idam-idamkan..

Lalu ibu itu berkata: " oh adek kecil, sungguh besar sekali jiwamu.. Ibu sangat berterima kasih atas nasehat yang adek berikan kepada ibu.. hem, kalau boleh tau nama adek sendiri siapa? terus adek tinggal dimana?"

Soni menjawab: " sama-sama bu.. saya dapat berkata demikian karena kehidupan saya jauh dibawah ibu.. dari situ, saya dapat belajar betapa nikmatnya hidup ini jika kebahagiaan dapat kita rasakan.. Perkenalkan bu, nama saya Soni. Saya tinggal di bawah kolonh jembatan dipinggiran kota. saya tinggal bersama adek dan kakak saya.. Kedua orang tua saya sudah lama meninggalkan saya sejak kami masih berusia balita."

Ibu: "sungguh malang sekali nasibmu. Kalau begitu, ibu antar pulang kerumah ya dek? oh iya, ini ada sedikit pemberian dari ibu. Mohon diterima."

Soni: " ah tidak usah repot-repot bu.. mohon maaf sekali bu, saya tidak bisa menerima pemberian ibu. Kalau begitu saya mohon pamit bu."

Ibu: "oh ya udah.. hati-hati dijalan ya dek..Seringlah berkunjung kerumah ibu. Pintu rumah ibu selalu terbuka untuk adek"

Soni: " ya bu"

( lalu Soni bergegas meninggalkan rumah itu )


Disepanjang jalan yang ia telusuri, ia sempat berpikir " ternyata, kekayaan itu tidak bisa menjamin sebuah kebahagiaan, semuanya serba tercukupi. Tapi kalo tidak ada kebahagiaan, percuma donk hidup mewah. Yang ada hanya kesedihan dan bahkan bisa stres. Ah.. masih mending juga kehidupan aku.. Hidupku memang serba kekurangan, tetapi aku bersyukur masih bisa merasakan kebahagiaan bersama adek dan kakak saya"


#malampun datang

Ditengah malam yang dingin, Soni berjalan menelusuri lampu-lampu kota yang indah. Serta riuh suara mesin yang seakan-akan meneriakan sebuah penderitaan yang tersembunyi..Disepanjang jalan, ia melihat warung makan dipinggiran taman kota. Akhirnya ia pergi kesana untuk membeli beberapa makanan..

Setelah ia membeli makanan, ia melanjutkan perjalananya lagi pulang kerumah..

Ditengah jalan, ia tidak sengaja melihat seorang ibu beserta anaknya terkapar lemas di pinggiran trotoar..

Lalu Soni mendekati mereka dan bertanya : " Ibu, ibu nampaknya pucat sekali? apakah ibu sakit?"

Lalu ibu itu menjawab: " iya nak.. Ibu sungguh lemas sekali. dari kemarin ibu dan anak ibu belum makan.. Ibu tidak kuat lagi untuk bekerja, karena kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan lagi.."

Soni: " oh, kalau begitu ini bu.. saya punya sedikit makanan untuk ibu.. silahkan dimakan bu" ( sambil memberikan sebungkus makanan kepunyaan Soni )

Ibu: " terima kasih banyak ya nak..Sunguh mulia sekali dirimu nak.. Ibu doakan semoga kamu mendapatkan imbalan yang lebih dariNya"

Soni: " sama-sama bu. Amin.. Kalau begitu, saya pamit bu.. Ingin melanjutkan perjalanan pulang kerumah"

Ibu: " iya nak.. Hati-hati dijalan ya nak"

( akhirnya Sonipun melanjutkan perjalananya pulang kerumah )

Sesampainya dirumah, Soni langsung menaruh karungnya dan bergegas untuk mandi.. Setelah mandi, kemudia ia dan kedua saudaranya menyantap makanan yang Soni bawakan untuk mereka..

Karena telah larut malam, akhirnya setelah mereka selesai makan.. Mereka bergegas untuk beristirahat dan terlelap dalam mimpi yang indah..

THE END


# Dari kisah Soni ini, kita dapat mempelajari bagaimana kita menyikapi hidup ini..
Hidup yang kita jalani memang sungguh sulit .. Terkadang kita sempat berpikir bahwa kenapa kita harus merasakan kesedihan jika ada sebuah kebahagiaan? dan mengapa kita harus menangis ditengah-tengah penderitaan kita jika ada sebuah keceriaan dan derai tawa...
Begitulah kehidupan ..
semua yang kita rasakan baik itu sedih, susah, senang bahkan tawa merupakan bagian dari sisi lain dari sebuah waktu yang sedang kita jalani..
Tak selalu apa yang kita lihat itu baik, didalamnya juga baik..
Lihatlah orang kaya disekitar kita.. Apakah dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka juga merasakan sebuah kebahagiaan ? apakah dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka dapat selalu tertawa dan bergembira?
jawabnya TIDAK !! Karena tidak selalu kebahagiaann itu didapat dari sebuah kekayaan yang kita miliki ..'
Kebahagiaan dapat kita rasakan jika ktia dapat mengucap syukur atas apa yang kita alami dan kita dapatkan .. baik itu bersifat membuat kita senang maupun itu bersifat membuat kita sedih ..
dan itulah kehidupan yang sebenarnya!


#dhamar supper idiiot

Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

Copyright (c) 2011 Asisteneptunus .